Jumat, 25 September 2020

Akhirnya Diet!

WARNING : Tulisan ini ditulis berdasarkan pengalaman saya sendiri, bisa jadi juga cocok untuk anda, bisa jadi tidak, karena pada dasarnya saya sendiri tidak memiliki background ahli gizi, ahli olahraga, apa lagi ahli diet ehehehe.

Setelah beberapa waktu yang lalu nonton film Imperfect, saya seolah berkaca pada diri sendiri beberapa tahun silam. Iya, mirip. Bagaimana tokoh Ibu memaksa Rara untuk diet, sedangkan si Bapak selau bilang “masih masa pertumbuhan” hehehe. Baik sih, tapi pada akhirnya memang selalu jadi pembelaan untuk mengulang habit yang itu-itu saja. Been there done that.

Bedanya, kalau Rara pada akhirnya diet karena tuntutan di tempat kerja, saya pada akirnya diet karena iseng-iseng saja! Hehehe. Berawal dari hobi nonton Youtube, dengan topik diet story yang membuat saya sering kali skeptis “ah, masa iya”, “ah, pasti berat”, dll. Sampe akhirnya kepikir “eh nyoba deh”.

Diet pake suplemen? Pernah. Pake jamu? Pernah. Bahkan makan sayur-sayuran yang cuma direbus aja juga pernah. Tapi rasanya itu bukan metode yang cocok untuk saya. Sampai akhirnya, saya berusaha nyari pola yang oke buat saya. Setelah nonton youtube sana-sini, akhirnya saya memutuskan untuk berguru secara online dari Kak Yulia Baltschun & Kak Kyra Nayda, yang membuat saya paham kalau diet tuh sifatnya subjektif, yang cocok di saya belum tentu cocok untuk Anda, begitu pun sebaliknya, intinya sih hindari apa yang paling bisa dihindari dan lakukan apa yang paling bisa dilakukan. Ada baiknya Anda konsul ke ahli gizi atau emang pakar diet buat benar-benar tau pola makan seperti apa yang cocok untuk Anda, tapi karena oh karena diet yang kemarin saya jalankan diawali dengan iseng-iseng belaka, jadi yaa sudah saya jalani dengan bismillah saja, hehehe. Sebenarnya poin yang saya sampaikan tentang diet sangat klise,

Oke, coba saya kupas satu persatu.

1. Niat

Dari awal saya diet, niat saya enggak muluk-muluk pengen ini itu, sederhananya cuma pengen bisa jahit kebaya yang lucu aja, udah. Dan saya paham kalau diet itu nggak bisa instan yang cuma 1-2 bulan aja mengingat kemarin berat saya berapa, terus idealnya berapa. Usahakan niat atau motivasi datang dari dan untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain, sekalinya ternyata orang itu tetep nggak peduli sama kita yaudah niat atau motivasi dietnya tetep ada, hehehe.

2.      Atur pola makan

Bagian ini sebenarnya gampang-gampang susah sih. Saya pribadi orang yang dulu lemah iman banget soal makanan, karena mindset saya, makan makanan yang enak di lidah itu self reward banget, makanan apapun itu, mulai dari pentol pinggir jalan, sampai pizza dan kawan-kawannya. Eh tapi ternyata memberikan self reward tidak melulu dengan makanan yang cuma enak di lidah, tapi perlu tau juga yang enak dan nyaman di tubuh. Akhirnya saya mulai mengatur pola makan saya,  awal-awal diet mungkin terkesan ambis sekali

Sarapan : Buah bertekstur padat (misal : apel, melon, belimbing dsb).

Tujuannya tidak lain agar perut penuh dan mulut lelah mengunyah, jadi tidak dilanjutkan dengan babak-babak (sarapan) selanjutnya.

Makan siang : Nasi dengan porsi setengah dari biasanya, lauk normal apa aja yang ada, dan sayur yang porsinya lebih banyak.

Saya nggak pilih diet yang benar-benar melepas nasi, karena saya tahu saya nggak bakal bisa lepas dari sego sambel, kan bakal sedih banget nantinya hehehe. Selain itu, saya juga takut nantinya ketika udah bisa makan nasi, akhirnya kesenengan dan maruk. Jadi saya pilih mengurangi saja.

Makan sore atau malam : Enggak ada, karena saya sudah berhenti mengunyah dari jam 3 sore

TAPI.....

Ternyata tiap malam saya lapar, asli. Awalnya saya mengira lapar itu biasa, emang karena diet, ya itu konsekuensinya, tapi akhirnya otak pun jadi mandek dan enggak bisa mikir, akhirnya saya sadar, mungkin ada yang nggak beres dengan pola makan saya. Akhirnya saya berusaha menyesuaikan dengan pola lainnya

Sarapan : Buah bertekstur padat, tapi sekarang lebih sering dibarengi sama oatmeal juga.

Makan siang :  Masih tetap sama, nasi dengan porsi secukupnya, lauk normal apa aja yang ada dan sayur yang porsinya lebih banyak.

Makan sore atau malam : Kalau ngerasa nggak terlalu banyak aktivitas, lebih sering cuma makan buah atau sayur lagi, atau jus aja tanpa gula.

POIN : makanan yang semakin dikurang-kurangin itu enggak bagus juga, perlu tau kebutuhan tubuh seberapa, jangan ngikutin ego pengen cepet kurus hehehe.

Cheating Meal

Siapa bilang diet nggak boleh jajan atau ngemil enak? Saya masih terus makan enak selama diet, kembali ke prinsip awal saya yang nggak pengen maruk ketika diet sudah berakhir. Bedanya, untuk hal ini, saya sedikit lebih effort. Es krim, seblak dan mie pedas masih jadi partner setia, dengan sedikit perubahan tentunya. Misalnya,

Es krim : Saya mengolah buahnya sendiri, menghaluskan dengan blender dan menambahkan yoghurt atau susu low fat.

Seblak : Memodifikasi isi seblak dengan porsi sayur lebih banyak, tanpa mie, tanpa makroni, hanya sayur (sawi & jamur), telur, dan pentol, yang pasti harus pedas & micin! Hehehehe.

Mie Pedas : Lebih seringnya saya beli mie instan, memasak separuh bagiannya saja dan menambahkan sayur dan cabe sesuai kebutuhan saya, saya tidak mengurangi bumbunya.

Dan berbagai hack lainnya. Hehehe.

3.       Olahraga rutin

Saya termasuk kaum rebahan! Wkwkwkwk, tapi pada akhirnya saya mencoba. Saya nggak daftar gym atau jogging, karena emang ngerasa bukan pola itu yang cocok untuk saya. Bisa jadi saya bikin beribu alasan untuk memberatkan langkah saya ke gym atau keluar rumah jadilah saya beli alat olahraga satu persatu, enggak perlu yang mahal, pokoknya yang bisa dipake rutin, yang keliatan depan mata, syukur-syukur kalo rada mahal nantinya jadi kepikir “aduh duit saya mandek, ayo kudu dimaksimalin pakenya!” wkwkwkwk. Posting anggaran yang semula untuk membeli jajan, berganti menjadi posting untuk membeli beberapa peralatan (yang masih bisa digunakan berkelanjutan, seneng nggak sih jadinya? Hehehe). Atau kalo emang olahraga masih terlalu berat buat dilakuin, bisa mulai dengan perbanyak gerak. Misalnya, habis belanja dari minimarket, taruh seluruh belanjaan di depan, terus taruh aja satu-satu ke tempatnya, bolak-balik, nggak efektif, tapi lumayan lah buat mulai gerak.

4.       Kurangi gula

Saya temasuk addict sama yang manis-manis (tidak terkecuali senyum dan janji manisnya, ehehehe). Pada fase ini saya benar-benar mengurangi minuman manis, apalagi minuman yang sifatnya berat (menurut saya), semacam coklat atau latte yang lucu-lucu. Lama kelamaan es teh, kopi, wedang jeruk, semua tanpa gula, dan ternyata (buat saya) itu lebih nyaman karena nggak ada after taste-nya.

5.       Perbanyak air putih

Ini ngaruh banget sih, saya pernah menonton salah satu video Youtube dari Kak Yulia Baltschun dan beliau mengatakan bahwa terkadang dehidrasi sering menimbulkan efek lapar yang palsu, jadi tidak ada salahnya untuk mememinum air putih dengan porsi yang lebih banyak untuk memastikan apakah benar itu lapar atau hanya ‘lapar palsu’?

6.       Ubah mindset “self-reward”.

Sejujurnya saya tipe orang yang sangat memanjakan diri sendiri. Setiap kali saya berhasil mengerjakan atau melewati sesuatu dengan baik, salah satu reward utamanya yaa makan enak! Wkwkwk, tapi ternyata hal ini menjadi penyesalan pada akhirnya, karena saya jadi tersiksa sendiri. Lalu apa pengganti self-reward tsb? Ya semuanya balik ke pribadi masing-masing apa goalsnya? Lebih pd pake eksperimen make up? Lebih bebas milih-milih baju? Monggo, sesuaikan dengan kebutuhan itu.

7.       Buat tracking dengan aplikasi.

Ada beberapa aplikasi untuk smartphone yang saya gunakan untuk ‘menyemangati’ diet saya, salah satunya Fat Secret (kalau tidak salah), intinya sih kita bisa tracking progress penurunan berat badan kita, dan cek kalori dari makanan yang akan kita makan. Kita pun jadi lebih selektif untuk memilih dan memilah makanan. Trust me, ini beneran bikin happy kal liat grafik berat bisa turun hehehe.

Total dari semua yang saya lakukan, saya turun 16 kilo dalam waktu 8 bulan. Masa evaluasi saya adalah 3 bulan pertama, selama 3 bulan pertama itu saya berhasil menurunkan berat badan dan baik-baik saja, berarti diet itu cocok untuk saya. Dan ketika saya sudah berada di target yang saya inginkan, saya berusaha beradaptasi dengan pola makan baru saya, yang kali ini tujuannya untuk menjaga berat badan, bukan terus menurunkan. Tapi ternyata ...... godaan itu selalu ada bung, dan saat ini saya kembali naik 4 kilo dalam waktu 6 bulan karena sudah jarang olahraga wkwkwkwk (emang sok sibuk anaknya). Ya sudah nggak papa, yuk mari kita mulai kembali dietnya. Semangattt!

Kamis, 02 Januari 2020

Pesan dari Bapak di Kereta

    Sore hari, di tengah perjalanan kereta Malang-Surabaya, seorang bapak berumur hampir 60 tahunan bingung mencari kursi kosong dan akhirnya memilih duduk diantara saya dan seorang pemuda lain yang sedang asik bermain handphone. Seusai saya menutup telpon dari salah satu teman yang curhat tentang kisah cinta anak muda eaa, beliau bertanya “habis buka sesi konseling, mbak?”.
    Dari kalimat pendek tersebut percakapan kami terus berlanjut. Bapak tsb mengeluarkan sebuah buku, yang diberikan secara cuma-cuma kepada saya, beliau bilang memang sengaja PP Sidoarjo-Malang buat beli buku yang sebenarnya sudah beliau punya (dan beli berulang kali). 
Buku pemberian bapak tersebut. 
Pada perjalanan tersebut
, beliau membeli buku itu sebanyak lima, memang sengaja untuk diberikan kepada siapa saja. Wah, saya termasuk orang yang terpilih, rupanya! Kata beliau, anak muda harus banyak baca, serta paham soal apa dan bagaimana itu budaya. Banyak yang saya kagumi dari pemikiran beliau tentang budaya, termasuk tentang bagaimana cara beliau secara tidak langsung mendorong saya untuk membaca buku yang khusus membahas tentang budaya. Yah meskipun saya kuliah di lingkungan FISIP, yang sebenarnya seringkali kali bersinggungan dengan antropologi dan budaya, tapi ternyata saya belum ada apa-apanya. Hehehe.
    Setelah asik berdiskusi tentang budaya, bapak tersebut kembali bercerita tentang hakikat manusia, tentang bagaimana manusia bersikap, dan yang paling saya ingat adalah tentang berbuat kebaikan. Beliau bilang, saat ini semakin banyak orang “baik” didasarkan pada klaim dirinya sendiri. Padahal sebenarnya kebaikan dalam diri kita susah sekali untuk diukur. Kalau dari pandangan beliau, kebaikan itu baru tampak ketika ada keburukan, sama seperti kertas putih yang baru keliatan putihnya (baiknya) ketika ia disandingkan dengan warna hitam, misalnya. Dalam kehidupan ini, kita selalu dipertemukan dengan hal-hal yang banyak disebut sebagai ujian, yang pada akhirnya menciptakan level dalam kehidupan (atau kebaikan) itu sendiri, yang kurang lebih seperti ini, 
Pertama, keburukan yang dibalas dengan keburukan. Nampaknya sepele, karena terkesan imbang, dengan dalih “apa yang ia tanam, itu yang ia tuai”. Tapi toh sebenarnya kita juga tidak tahu, apakah balasan  yang kita lakukan itu adalah buah yang dituai oleh orang lain, atau malah apa yang sedang kita tanam, kan
Kedua, keburukan yang tidak dibalas dengan apa-apa. Sebenarnya terkesan standard, tapi lumayan bisa bikin level kita naik, karena kita tidak berusaha melakukan hal buruk yang sama dengan apa yang orang lain lakukan.
Ketiga, keburukan yang dibalas dengan kebaikan. Latihannya berat, bisa jadi  butuh waktu tahunan. Ini level yang tinggi, karena tidak semua orang pada akhirnya bisa berada pada level ini. Manusia yang pada dasarnya punya sifat iri, dengki, dendam, pada level ini bukan hal itu lagi yang dia utamakan, tapi lebih kepada bagaimana dia bisa mengelola dirinya sendiri, menahan amarahnya, dan menunjukkan kepeduliannya.
    Kebaikan dalam diri itu perlu diolah, diasah, agar kita terbiasa, katanya. Terlepas dari semua level yang disebutkan, Bapak tsb mengatakan bahwa nantinya kalau kita sudah bersikap baik, jangan pernah mengharap balasan baik juga, tapi  kita nggak perlu khawatir, karena sebenarnya energi dalam diri kita sifatnya tarik menarik, seperti magnet, bedanya tarik-menarik dengan hal yang sejenis. Energi positif nantinya juga akan dikelilingi energi positif, begitu pun sebaliknya. Kuncinya coba buat energi positif dari diri sendiri dulu, suatu hari, lainnya pasti mengikuti.
    “Oh iya mbak, ada 3 hal di dunia ini yang bikin kita bodoh dan kehilangan kendali, yakni dendam, benci, dan cinta”. Kita sama-sama tahu kalau dendam dan benci memang cenderung berpotensi melukai, tapi ada apa dengan cinta?  Beliau bilang, sama halnya dengan dua lainnya, rasa cinta kalau berlebihan enggak baik, bisa jadi tujuan hidupnya malah berbelok. “Jadi, cintai secukupnya aja ya mbak, biar imbang hidupnya”, tambah beliau. Jadi, jangan bucin guys! WKWKWK. Setelah nasihat tsb, beliau turun di stasiun Sidoarjo, dan saya lanjut ke Surabaya dengan isi kepala yang dipenuhi wejangan-wejangan beliau. Sederhana, tapi sangat mengena. Terima kasih banyak, pak!