Sabtu, 16 September 2017

Sampai Jumpa, Angga (3)

Kata ‘andaikan’ nyatanya selalu hadir di setiap perpisahan”
Hari ini adalah hari ke-seratus (berdasarkan hitungan Jawa) perpisahan antara kami dan Angga. Tepat 100 hari ini juga semua rutinitas yang melibatkan aku dan adikku hilang. Sungguh, rasanya nggak pernah kebayang buat ada di detik-detik terakhir, di pemakaman dan di hari-hari tahlil adikku sendiri. Aku dan Angga cuma dua bersaudara, kemana-mana selalu bersama *ini beneran*. Buat ukuran kakak-adik yang beda usianya 4 tahun, kami terhitung akur. Sekali-dua kali pernah kita bertentangan, yang nantinya ditutup dengan aku mentraktir Angga, Angga mentraktir aku, atau hanya sepucuk surat yang dikirim lewat celah dibawah pintu kamar, nggak jarang pula tiba-tiba baikan tanpa alasan.
Soal kedekatan? Hampir setiap malam sebelum tidur, salah satu rutinitasku adalah mampir ke kamar Angga, cuma buat liat “oh adekku udah tidur, lucu kayak bayi” *meskipun waktu itu dia udah kelas X SMA*. Sama halnya kayak Angga yang selalu spam di chatroom kalo akunya nggak pulang-pulang dari kampus. Sebagai kakak yang rasanya selalu menganggap adiknya masih kecil, aku terhitung cukup sering iseng ke Angga, dan waktu Angga marah, aku cuma bilang “Adekku lo cuma 1, kalo bukan kamu yg tak godain lo siapa lagi?”. Bener-bener udah nggak ada lagi.
Ditarik dari silsilah keluarga, mama lahir dengan 11 saudara, pun Papa lahir dengan 6 saudara. Tapi dulu aku nggak pernah iri sama orang yang punya banyak saudara. Karena aku yakin, aku punya 1 adik yang dekatnya luar biasa. Setiap aku, mama, papa & Angga pergi, Angga pasti gandeng tangan aku, terus bercanda apa aja yang rasanya  ga ada beda antara lucu & ga jelas. Angga ibarat hasil fotokopi-nya Papa. Mirip banget! Aku sering menyebutnya kembar kecil (Angga) & kembar besar (Papa). Mama dan Papa selalu bilang “Mbak sama adek harus rukun, nanti kalo ada apapun ya harus dihadapi berdua, kalo bukan kalian yang saling bantu, siapa lagi?” Sekarang aku sendiri.
            Pernah suatu hari waktu itu aku pengen banget makan Maicih, tapi aku yang dasarnya boros banget lagi ga ada uang buat beli gituan wkwk, Angga dengan baiknya beliin aku Maicih meskipun dia nggak makan sama sekali karena emang nggak suka pedes.
            Bahkan kebaikan Angga lebih dari sebungkus Maicih.
            Sore itu aku, mama, papa, Angga pergi ke sebuah toko jam tangan yang cukup besar di pusat kota. Angga pengen banget beli jam tangan yang harganya 5x, aku juga pengen beli jam tangan, tapi aku nggak mau pake uang aku sendiri wkwk, akhirnya Angga bilang “Mbak Anggi mau yang itu ta? Harganya berapa? Loh, yaudah aku ganti jam yg ini aja (harganya setengah jam awal) biar bisa beli jamnya mbak Anggi sekalian”. Sungguh. Hari itu, bukan hari ulang tahunku, tapi dia sebaik itu mengganti pilihannya dia buat aku.

            Hampir setiap hari setelah kepergian Angga, mama, papa, aku dan orang-orang terdekat kami bilang “Andaikan Angga nggak sakit”, “Andaikan waktu itu cepet dirujuk”, “Andaikan....” dan “Andaikan..” lainnya. Kata ‘andaikan’ akan selalu ada di setiap kejadian serupa, karena kita nggak akan pernah siap sama yang namanya perpisahan. Kata ‘andaikan’ semakin lama makin membuat kita tidak bisa menerima kenyataan. Aku percaya, setiap orang punya takdirnya masing-masing. Aku nggak bisa menahan kepergian Angga, aku pun nggak bisa meminta penundaan atas kepergianku nantinya. Bukan aku nggak sayang Angga dan bisa semudah itu melepaskan, tapi apakah ada jalan selain berusaha menerima dan mengikhlaskan?
            Sempat terbayang, mungkin ketika Angga pergi di umur yang lebih dewasa nantinya kita akan lebih siap, padahal aku yakin tidak. Kita akan selalu berpacu dengan kata “andaikan dia bisa lebih ....” dan seterusnya. Sungguh bullshit sekali kalo aku bilang kami kuat di hari-hari berikutnya. Hampir 16 tahun bersama di segala suasana tidak semudah itu dihapus dengan kata ‘ikhlas’ tapi nyatanya kata ‘andaikan’ juga bukan menjadi kata penghiburan.
            Belajar dari perpisahan antara aku dan Angga, rasanya mulai sekarang kita perlu lebih peka sama tanda-tanda atau perubahan yang menunjukkan indikasi adanya perpisahan. Bahkan tanda sejelas apa yang sudah dikasih Angga, nyatanya aku masih melewatkan beberapa request yang aku kira itu cuma permintaan biasa, andaikan waktu itu aku nurutin apa kata Angga? Walaupun kadang emang kayak drama, tapi sungguh ketika semuanya udah nggak mungkin diwujudkan, yang tertinggal hanya kata “andaikan”. Dan hal paling berat dari sebuah perpisahan adalah bukan hanya karena hilangnya kehadiran orang tersebut, tapi juga hilangnya rutinitas dan impian-impian yg ingin dicapai bersama.

Sampai jumpa, Angga!

Sampai Jumpa, Angga (2)

“Maaf ya Pa, belum bisa banggain mama sama papa”.
Aku udah nggak bisa banyak ngomong, mama pun begitu, cuma Papa (yg waktu itu belum tau kalimat terakhit Angga) yang tatag buat benerin infusnya. Aku Cuma liat dari samping, dan tiba-tiba Angga bilang “Maaf ya Pa, belum bisa banggain mama sama papa”. Aku cuma bisa nangis, antara berusaha menerima kenyataan dan masih nggak rela, kalaupun mau drama, harusnya nggak segini juga, Ngga. Setelah beres semuanya, Mama, papa dan Angga naik Ambulans ke RS X, mobil Papa dibawa tetangga, dan aku tetep naik motor kayak biasa, aku yakin kalau aku udah nggak sanggup nahan air mata, dan rasanya kalo semobil sama orang lain rasanya malah bikin gimana yaa... Aku nggak ikut ke RS X malem itu, karena berencana buat cuci baju yang ada di rumah biar besok bisa dipake buat hari-hari selanjutnya. Sambil memantau dari Whatsapp keluarga, ternyata Angga masih di UGD tanpa penanganan apa-apa, cuma infus aja.
“Mbak, salim, peluk”
Rabu pagi, Mama telpon aku dan minta cepat-cepat ke RS X, aku udah feeling nggak enak, meskipun aku masih berusaha posthink. Sampai di RS X yang besar banget dan aku buta arah, akhirnya sampailah aku di UGD dengan mama menyambut aku di depan pintu dan bilang “Udah ya, ikhlasin adekmu”. Aku nggak bisa percaya, sama sekali. Aku langsung lari ke tempat Angga, liat Angga yang rasanya udah nggak kuat lagi, infus udah minta dilepas dsb. Salah satu dokter minta Angga buat masuk di satu ruang dimana Angga bakal dapat alat bantu pernapasan di tenggorokan, tapi alat itu semacam gambling dalam sekitar 9 hari. Kalau memang rezekinya, Angga masih bisa hidup seterusnya dengan tetap pake alat itu, kalau memang takdirnya ya, Angga pergi sesuai dengan waktunya. Mama dan Papa nggak mau, mengingat pamit-pamit Angga selama ini, Mama dan Papa merasa, kalo Angga pake alat itu, kita ber-4 nggak bisa saling menguatkan, nggak ada sentuhan-sentuhan terakhir kami bergandengan, berdoa bersama, mengusap kepala Angga. Bukan berarti menyiksa, tapi kalaupun diobati, kami mau tetap bisa disamping Angga. Kami masih berusaha sabar menunggu giliran Angga masuk di ruang yang seharusnya. Meskipun ketika waktu menunggu itu, mulut kami sudah berkomat-kamit membaca beragam doa, melihat Angga yang dalam suara rintihnya berkata “ aku mau keluar sekarang, sekarang aja, itu sudah merah”, sambil menarik infusnya. Aku jelas merasa menjadi orang yang paling marah dan nggak bisa ikhlas, adikku cuma satu, dan masih banyak request Angga yang kemarin masih kelewat.
Setelah kami berada di poin berserah diri. Angga dapet ruang dan bisa ditangani secara seharusnya. Sayangnya, waktu sampe di ruang itu, Mama dan Papa masih dipusingkan dengan urusan administrasi. Sumpah pak, buk, kami akan mengurusnya secara baik-baik nanti, tapi tolong obatin adik saya dulu L.  Aku cuma bisa ngomel “percuma dokter segini banyak tapi nggak ada yang nolongin adek, admin itu bisa diurus nanti, tapi anak ini enggak”, tiba-tiba Angga yang udah dalam kondisi drop banget minta bangun, “pa bangun, mbak salim mbak, salim, peluk”. Tepat di posisi itu aku bener-bener nggak bisa ngomong apa-apa, cuma bisa nangis. “kamu mau kemana? Hati-hati ya dek”. Angga juga salim ke Papa. Salim adalah kebiasaan yang selalu dilakuin setiap salah satu dari kami mau pergi. Beberapa waktu kemudian, Angga bisa ditangani, meskipun Angga berubah jadi orang yang tiba-tiba kuat banget buat narik-narik infus dan teriak-teriak. Minta makanan/minuman manis, minta aku buat ngusir orang yang sebenernya aku nggak bisa liat orang itu, sampe akhirnya setelah aku dan papa balik dari urusan admin dan kami semua berkumpul, Angga semakin drop, beberapa kali detak jantungnya ilang dan harus dipompa. Sampai ketiga kalinya dengan hitungan tiga kali tiga puluhan, dan hasilnya tetap detak jantungnya ilang, Papa, Mama dan aku cuma bisa nangis. Kehilangan? Pasti. Kami langsung tlp beberapa orang terdekat dan semuanya nggak nyangka karena kami memang merahasiakan semuanya. Rabu sore semua orang terdekat berkumpul di rumah, dan aku sangat berterima kasih sama semua yang sudah menyempatkan waktu, tenaga, dan semua yang sudah diberikan, nggak nyangka melepas kepergian Angga akan dihadiri dengan sebegitu banyaknya orang yang sampe beberapa hari berikutnya pun masih terus datang. Oh iya, meskipun setelah pemakaman Angga langitnya gerimis tipis-tipis, nggak bikin basah semua, tapi bikin sejuk. Terima kasih yang tidak bubar waktu itu :’)

Mama dan Papa selalu bilang “kita ini keluarga harus saling melindungi, segala masalah yang ada harus dihadapin bersama ber4 ya”, dan rasanya kedepan kita nggak bisa melewati ber4 dek. Sedikit kebanggan, kami semua bisa bersama-sama ada di detik terakhirnya Angga, meskipun kadang juga masih miris belum bisa memenuhi request Angga buat makan ini-itu, buat bikin video bareng dan ya, begitu lah. Nggak ada satu pun dari kita yang bisa nebak kapan kita nggak ber4 lagi. Dan iyaaa, ucapan Angga soal banner itu nyata, Angga bener-bener pergi dan diiringi banyakkk sekali orang yang turut merasa kehilangan, serta permintaan salim di rumah sakit itu memang salim terakhir Angga untuk pergi selamanya. 

Sampai Jumpa, Angga (1)

“ma, kayaknya aku nggak sampe lebaran”
Bulan April lalu, tepat sehari sebelum Papa ulang tahun, seperti rutinitas di setiap ulang tahun, aku dan Angga pergi buat beli kue ulang tahun. Harga kue nantinya akan dibagi patungan antara aku dan Angga dengan jumlah yang sama besar, kadang Angga malah minta diberi bagian yg lebih sedikit. Hehe. Tapi tahun ini beda, Angga dengan sukarela bilang “Mbak, aku aja yang sekian, mbak Anggi sisanya”. Sedikit bersyukur karena sepertinya di tahun ini adikku semakin baik hatinya, hehe. Setelah itu semuanya berjalan seperti biasa, tepat pukul jam 12 malam, aku, mama, dan Angga memberi kejutan ke Papa, dan jadi lah malam itu kami berkumpul dan sharing soal apa aja harapan Papa di tahun ini. Mungkin karena asyiknya sharing kita lupa buat foto bareng, tapi yaudah nggak papa, karena itu bisa dilakuin waktu makan bareng. Sayangnya, waktu makan-makan kita juga lupa foto. Batinku “yaudah, bentar lagi ada yg ulang tahun lagi juga foto bareng lagi”. Akhirnya ya sudah semuanya berlalu gitu aja.

Hari pun terus berjalan sampai akhirnya masuk di bulan Mei. Aku nggak tau kenapa, Angga yang nggak pernah ngeluh apa-apa tiba-tiba sakit, cukup parah. Angga susah banget buat nafas, padahal nggak punya riwayat asma -setau kami selama ini-, dugaan kami cuma “oh mungkin capek banyak kegiatan”. Dokter bilang Angga butuh istirahat, tapi salah satu tetangga yang juga seorang dokter (lainnya) bilang kalo rasanya Angga butuh dibawa ke UGD dan harus opname beberapa hari lamanya. Pada hari awal Angga opname, Angga sempat bilang ke mama “ma, kayaknya aku nggak sampe lebaran” *sambil nangis*, jadi lah mama panik nggak karuan dan bilang ke papa soal omongan Angga. Tapi dasarnya aku yang berusaha buat nggak anggap itu serius yaa yaudah ‘paling cuma drama’, meskipun sebenernya juga ada kekhawatiran atas omongan itu. Aku nggak pernah memperlakukan Angga seperti orang sakit, kalo biasanya aku sering uyel-uyel, yaudah aku tetep uyel-uyel, sebiasa yang aku bisa, kecuali tiap dia request makanan yang lagi dipengenin. Mama, papa dan aku mencoba membagi tugas. Mama standby di RS, papa kerja & cari obat Angga yang adanya di luar RS dan Anggi yg sesekali bantu ngerjain pekerjaan rumah. Sampai akhirnya beberapa hari kamudian Angga keluar dari RS.
“ma, aku mau istirahat, aku mau ikut lebaran”
Setelah pulang dari RS dan harus terus minum obatnya, ternyata Angga belum benar-benar sembuh. Di jam-jam tertentu Angga tiba-tiba panas, bukan main, 39-40 derajat. Awalnya kami kira itu efek obat, tapi setelah masuk UGD lagi, ternyata penyakitnya bertambah DB. Lebih parah lagi, setiap infus masuk, reaksi Angga sering ‘hebat’, karena ternyata Angga alergi sama beberapa obat yang sampe bikin dokternya bingung. Di tengah kepanikan itu, Angga bilang “Ma, kayaknya aku nggak sampe puasanya habis”, Mama makin panik lagi, meskipun aku masih merasa drama, tapi aku mulai khawatir. Papa juga dipamitin gitu sama Angga, kami semua diam, nggak membahas terlalu jauh karena nggak mau pikiran negatif akhirnya jadi bayang-bayang. Di opname Angga kali ini, rasanya waktu kami ber-4 lebih banyak dihabiskan di RS. Entah aku yang tiba-tiba telat kuliah dan belok ke RS, papa yang lebih sering pulang kerja jauh lebih cepat, dan pokoknya semua harus dihadapi ber-4! Waktu itu malem minggu, kami ber-4 kumpul di kamar RS Angga yang nggak luas, awalnya aku dan papa nggak ada rencana nginep di RS bareng mama dan Angga, tapi akhirnya kami luluh juga. Lewat bekal 1 kursi tunggu pasien, 1 karpet dan 1 kolong kasur RS, papa, mama dan aku berhasil menemani Angga tidur bersama di RS malam itu. Karena waktu itu bulan Ramadhan dan butuh sahur, jam 3 pagi aku bangun dari kolong kasur dan nyari es krim buat sahur, Angga Cuma ketawa liat aku. Aku nggak tau kenapa dia ketawa liat mbaknya nyari es krim buat sahur. Paginya aku balik pulang sama mama, tapi ternyata Angga chat aku buat nyapa, terus nggak bilang apa-apa. Di opname yang kedua, emang nggak ada yang jenguk Angga. Angga minta mama buat rahasiain dari semuanya, Angga bilang “ma, aku mau istirahat, aku mau ikut lebaran”. Sampe akhirnya ga tau gimana ceritanya, temen SMA mama tau kalo Angga masuk rumah sakit lagi. Hari Selasa siang, aku nggak tau kenapa yang pasti nggak betah lama-lama di kampus, bawaannya pengen cepet kabur dan ke RS. Eh ternyata di KBU (tempat kumpul mahasiswa Ilkom UA), teman-teman pada tanya “adekmu kenapa? Ayo jenguk dsb”, dan aku nggak mau jawab, intinya kudu nangis gitu, sampe akhirnya yaudah aku ngotot minta pulang, ternyata di parkiran mama chat aku “Mbak, pulango, adikmu butuh kamu”, ini nyambung banget sama aku yang pengen cepet ke RS. Dengan bangganya, aku yang hari itu lagi nggak puasa, bawa es krim ke kamar Angga... eh ternyata teman-teman SMA mama lagi ngumpul dengan mata sembab, sungguh berdosa sekali ya Anggi ini hiks. Aku liat Angga yang kayaknya kondisinya makin drop. Yha jadilah es krim meleleh begitu saja dan hati makin nggak tenang. Teman-teman mama bilang, kalo segimanapun Angga minta dirahasiain, Embah (nenek) juga kudu tau. Liat kondisi Angga yang makin drop akhirnya aku luluh dan tlp Embah, dan ternyata Bude aku yang panik ga karuan, tapi aku yang minta buat ga jenguk sore itu dan tunggu kondisinya lebih baik. Nggak lama setelah itu, Papa dateng ke RS juga dan kita ber4 kumpul dan liat satu demi satu teman satu ruangan Angga pulang di hari itu. Angga yang makin drop harus dirujuk ke RS lain, papa ngurus semua suratnya, sementara aku dan mama duduk di kanan dan kiri tempat tidur Angga. Dengan tatapan kosong, Angga tiba-tiba bilang “Ma, kayaknya aku nggak sampe ulang tahunku” (hari itu tanggal 6 Juni, dan tanggal 15 Juni seharusnya Angga ulang tahun). Dalam kondisi tegang gitu rasanya sulit banget kontrol emosi, sampe akhirnya aku sama mama nangis gak karuan dan peluk Angga. Berapa menit kemudian papa masuk kamar Angga dan bawa turun beberapa tas ke mobil, di depan lift tiba-tiba Papa bilang kalo Angga juga pamit gitu ke Papa. Sumpah. Rasanya gimana ya... cuma bisa diem aja gitu. “Yaudah, semua itu punya Allah, kalo takdirnya gitu ya kita bisa apa” kata Papa, dan aku adalah orang yang paling emosi denger itu. Aku tau Papa adalah orang yang paling memperjuangkan segalanya buat keluarganya, dan aku nggak nyangka sama sekali Papa bilang gitu. Setelah semua barang udah beres aku dan Papa balik lagi ke kamar Angga, Papa masih ngurus keperluan buat rujuk ke RS lain, aku sama Mama balik lagi di kasur Angga. Masih dengan tatapan kosong, Angga bilang “Ma, aku liat di rumah Embah (rumah dulu kami sekeluarga tinggal)  ada kain pocong, ada banyak orang bawa bunga terus ada banner besar tulisannya “RIP Angga, kami turut bersedih atas kepergianmu””. Sungguh, itu adalah kali kedua aku emosi nggak karuan. Gimana bisa kamu memprediksi waktumu yang semakin sedikit?