WARNING : Tulisan ini ditulis berdasarkan pengalaman saya sendiri, bisa jadi juga cocok untuk anda, bisa jadi tidak, karena pada dasarnya saya sendiri tidak memiliki background ahli gizi, ahli olahraga, apa lagi ahli diet ehehehe.
Setelah
beberapa waktu yang lalu nonton film Imperfect, saya seolah berkaca pada diri sendiri beberapa tahun silam. Iya, mirip.
Bagaimana tokoh Ibu memaksa Rara untuk diet, sedangkan si Bapak selau bilang
“masih masa pertumbuhan” hehehe. Baik sih, tapi pada akhirnya memang selalu
jadi pembelaan untuk mengulang habit yang
itu-itu saja. Been there done that.
Bedanya,
kalau Rara pada akhirnya diet karena tuntutan di tempat kerja, saya pada
akirnya diet karena iseng-iseng saja! Hehehe. Berawal dari hobi nonton Youtube, dengan topik diet story yang membuat saya sering kali
skeptis “ah, masa iya”, “ah, pasti berat”, dll. Sampe akhirnya kepikir “eh
nyoba deh”.
Diet
pake suplemen? Pernah. Pake jamu? Pernah. Bahkan makan sayur-sayuran yang cuma
direbus aja juga pernah. Tapi rasanya itu bukan metode yang cocok untuk saya.
Sampai akhirnya, saya berusaha nyari pola yang oke buat saya. Setelah nonton youtube
sana-sini, akhirnya saya memutuskan untuk berguru secara online dari Kak Yulia Baltschun & Kak Kyra Nayda, yang membuat saya paham
kalau diet tuh sifatnya subjektif, yang cocok di saya belum tentu cocok untuk
Anda, begitu pun sebaliknya,
intinya sih hindari apa yang paling bisa dihindari dan lakukan apa yang paling
bisa dilakukan. Ada baiknya Anda konsul ke ahli gizi atau
emang pakar diet buat benar-benar tau pola makan seperti apa yang cocok untuk
Anda, tapi karena oh karena diet yang kemarin saya jalankan diawali dengan
iseng-iseng belaka, jadi yaa sudah saya jalani dengan bismillah saja, hehehe. Sebenarnya
poin yang saya sampaikan tentang diet sangat klise,
Oke, coba saya kupas satu persatu.
1. Niat
Dari awal saya diet, niat
saya enggak muluk-muluk pengen ini itu, sederhananya cuma pengen bisa jahit
kebaya yang lucu aja, udah. Dan saya paham kalau diet itu nggak bisa instan
yang cuma 1-2 bulan aja mengingat kemarin berat saya berapa, terus idealnya
berapa. Usahakan niat atau motivasi datang dari dan untuk diri sendiri, bukan
untuk orang lain, sekalinya ternyata orang itu tetep nggak peduli sama kita
yaudah niat atau motivasi dietnya tetep ada, hehehe.
2.
Atur pola makan
Bagian ini sebenarnya
gampang-gampang susah sih. Saya pribadi orang yang dulu lemah iman banget soal
makanan, karena mindset saya, makan
makanan yang enak di lidah itu self
reward banget, makanan apapun itu, mulai dari pentol pinggir jalan, sampai
pizza dan kawan-kawannya. Eh tapi ternyata memberikan self reward tidak melulu dengan makanan yang cuma enak di lidah,
tapi perlu tau juga yang enak dan nyaman di tubuh. Akhirnya saya mulai mengatur
pola makan saya, awal-awal diet mungkin
terkesan ambis sekali
Sarapan : Buah bertekstur
padat (misal : apel, melon, belimbing dsb).
Tujuannya
tidak lain agar perut penuh dan mulut lelah mengunyah, jadi tidak dilanjutkan
dengan babak-babak (sarapan) selanjutnya.
Makan siang : Nasi dengan
porsi setengah dari biasanya, lauk normal apa aja yang ada, dan sayur yang
porsinya lebih banyak.
Saya nggak pilih diet yang benar-benar melepas nasi, karena saya
tahu saya nggak bakal bisa lepas dari sego sambel, kan bakal sedih banget
nantinya hehehe. Selain itu, saya juga takut nantinya ketika udah bisa
makan nasi, akhirnya kesenengan dan maruk. Jadi saya pilih mengurangi saja.
Makan sore atau malam :
Enggak ada, karena saya sudah berhenti mengunyah dari jam 3 sore
TAPI.....
Ternyata tiap malam saya
lapar, asli. Awalnya saya mengira lapar itu biasa, emang karena diet, ya itu konsekuensinya, tapi
akhirnya otak pun jadi mandek dan enggak bisa mikir, akhirnya saya sadar,
mungkin ada yang nggak beres dengan pola makan saya. Akhirnya saya berusaha menyesuaikan dengan pola lainnya
Sarapan : Buah bertekstur
padat, tapi sekarang lebih sering dibarengi sama oatmeal juga.
Makan siang : Masih tetap sama, nasi dengan porsi
secukupnya, lauk normal apa aja yang ada dan sayur yang porsinya lebih banyak.
Makan sore atau malam : Kalau
ngerasa nggak terlalu banyak aktivitas, lebih sering cuma makan buah atau sayur
lagi, atau jus aja tanpa gula.
POIN : makanan yang semakin dikurang-kurangin itu enggak bagus
juga, perlu tau kebutuhan tubuh seberapa, jangan ngikutin ego pengen cepet
kurus hehehe.
Cheating Meal
Siapa bilang
diet nggak boleh jajan atau ngemil enak? Saya masih terus makan enak selama
diet, kembali ke prinsip awal saya yang nggak pengen maruk ketika diet sudah
berakhir. Bedanya, untuk hal ini, saya sedikit lebih effort. Es krim, seblak dan mie pedas masih jadi partner setia,
dengan sedikit perubahan tentunya. Misalnya,
Es krim :
Saya mengolah buahnya sendiri, menghaluskan dengan blender dan menambahkan
yoghurt atau susu low fat.
Seblak :
Memodifikasi isi seblak dengan porsi sayur lebih banyak, tanpa mie, tanpa
makroni, hanya sayur (sawi & jamur), telur, dan pentol, yang pasti harus
pedas & micin! Hehehehe.
Mie Pedas :
Lebih seringnya saya beli mie instan, memasak separuh bagiannya saja dan
menambahkan sayur dan cabe sesuai kebutuhan saya, saya tidak mengurangi
bumbunya.
Dan berbagai hack lainnya. Hehehe.
3. Olahraga rutin
Saya termasuk kaum rebahan! Wkwkwkwk, tapi pada akhirnya saya mencoba.
Saya nggak daftar gym atau jogging, karena emang ngerasa bukan pola itu yang
cocok untuk saya. Bisa jadi saya bikin beribu alasan untuk memberatkan langkah
saya ke gym atau keluar rumah jadilah saya beli alat olahraga satu persatu,
enggak perlu yang mahal, pokoknya yang bisa dipake rutin, yang keliatan depan
mata, syukur-syukur kalo rada mahal
nantinya jadi kepikir “aduh duit saya mandek, ayo kudu dimaksimalin pakenya!”
wkwkwkwk. Posting anggaran yang semula
untuk membeli jajan, berganti menjadi posting untuk membeli beberapa peralatan
(yang masih bisa digunakan berkelanjutan, seneng nggak sih jadinya? Hehehe). Atau kalo emang olahraga masih terlalu berat buat dilakuin, bisa mulai
dengan perbanyak gerak. Misalnya, habis belanja dari minimarket, taruh seluruh belanjaan di
depan, terus taruh aja satu-satu ke tempatnya, bolak-balik, nggak efektif, tapi
lumayan lah buat mulai gerak.
4. Kurangi gula
Saya temasuk addict sama yang
manis-manis (tidak terkecuali
senyum dan janji manisnya, ehehehe). Pada fase ini saya benar-benar mengurangi minuman manis, apalagi
minuman yang sifatnya berat (menurut saya), semacam coklat atau latte yang lucu-lucu. Lama kelamaan es
teh, kopi, wedang jeruk, semua tanpa gula, dan ternyata (buat saya) itu lebih
nyaman karena nggak ada after taste-nya.
5. Perbanyak air putih
Ini ngaruh banget sih, saya
pernah menonton salah satu video Youtube dari Kak Yulia Baltschun dan beliau
mengatakan bahwa terkadang dehidrasi sering menimbulkan efek lapar yang palsu,
jadi tidak ada salahnya untuk mememinum air putih dengan porsi yang lebih
banyak untuk memastikan apakah benar itu lapar atau hanya ‘lapar palsu’?
6. Ubah mindset “self-reward”.
Sejujurnya saya tipe orang yang sangat
memanjakan diri sendiri. Setiap kali saya berhasil mengerjakan atau melewati
sesuatu dengan baik, salah satu reward
utamanya yaa makan enak! Wkwkwk, tapi ternyata hal ini menjadi penyesalan pada
akhirnya, karena saya jadi tersiksa sendiri. Lalu apa pengganti self-reward tsb? Ya semuanya balik ke
pribadi masing-masing apa goalsnya? Lebih pd pake eksperimen make up? Lebih
bebas milih-milih baju? Monggo, sesuaikan dengan kebutuhan itu.
7.
Buat tracking
dengan aplikasi.
Ada beberapa aplikasi untuk smartphone yang saya gunakan untuk ‘menyemangati’ diet saya, salah satunya Fat Secret (kalau tidak salah), intinya sih kita bisa tracking progress penurunan berat badan kita, dan cek kalori dari makanan yang akan kita makan. Kita pun jadi lebih selektif untuk memilih dan memilah makanan. Trust me, ini beneran bikin happy kal liat grafik berat bisa turun hehehe.
Total dari semua yang saya lakukan, saya turun 16 kilo dalam waktu 8 bulan. Masa evaluasi saya adalah 3 bulan pertama, selama 3 bulan pertama itu saya berhasil menurunkan berat badan dan baik-baik saja, berarti diet itu cocok untuk saya. Dan ketika saya sudah berada di target yang saya inginkan, saya berusaha beradaptasi dengan pola makan baru saya, yang kali ini tujuannya untuk menjaga berat badan, bukan terus menurunkan. Tapi ternyata ...... godaan itu selalu ada bung, dan saat ini saya kembali naik 4 kilo dalam waktu 6 bulan karena sudah jarang olahraga wkwkwkwk (emang sok sibuk anaknya). Ya sudah nggak papa, yuk mari kita mulai kembali dietnya. Semangattt!

