Jumat, 25 September 2020

Akhirnya Diet!

WARNING : Tulisan ini ditulis berdasarkan pengalaman saya sendiri, bisa jadi juga cocok untuk anda, bisa jadi tidak, karena pada dasarnya saya sendiri tidak memiliki background ahli gizi, ahli olahraga, apa lagi ahli diet ehehehe.

Setelah beberapa waktu yang lalu nonton film Imperfect, saya seolah berkaca pada diri sendiri beberapa tahun silam. Iya, mirip. Bagaimana tokoh Ibu memaksa Rara untuk diet, sedangkan si Bapak selau bilang “masih masa pertumbuhan” hehehe. Baik sih, tapi pada akhirnya memang selalu jadi pembelaan untuk mengulang habit yang itu-itu saja. Been there done that.

Bedanya, kalau Rara pada akhirnya diet karena tuntutan di tempat kerja, saya pada akirnya diet karena iseng-iseng saja! Hehehe. Berawal dari hobi nonton Youtube, dengan topik diet story yang membuat saya sering kali skeptis “ah, masa iya”, “ah, pasti berat”, dll. Sampe akhirnya kepikir “eh nyoba deh”.

Diet pake suplemen? Pernah. Pake jamu? Pernah. Bahkan makan sayur-sayuran yang cuma direbus aja juga pernah. Tapi rasanya itu bukan metode yang cocok untuk saya. Sampai akhirnya, saya berusaha nyari pola yang oke buat saya. Setelah nonton youtube sana-sini, akhirnya saya memutuskan untuk berguru secara online dari Kak Yulia Baltschun & Kak Kyra Nayda, yang membuat saya paham kalau diet tuh sifatnya subjektif, yang cocok di saya belum tentu cocok untuk Anda, begitu pun sebaliknya, intinya sih hindari apa yang paling bisa dihindari dan lakukan apa yang paling bisa dilakukan. Ada baiknya Anda konsul ke ahli gizi atau emang pakar diet buat benar-benar tau pola makan seperti apa yang cocok untuk Anda, tapi karena oh karena diet yang kemarin saya jalankan diawali dengan iseng-iseng belaka, jadi yaa sudah saya jalani dengan bismillah saja, hehehe. Sebenarnya poin yang saya sampaikan tentang diet sangat klise,

Oke, coba saya kupas satu persatu.

1. Niat

Dari awal saya diet, niat saya enggak muluk-muluk pengen ini itu, sederhananya cuma pengen bisa jahit kebaya yang lucu aja, udah. Dan saya paham kalau diet itu nggak bisa instan yang cuma 1-2 bulan aja mengingat kemarin berat saya berapa, terus idealnya berapa. Usahakan niat atau motivasi datang dari dan untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain, sekalinya ternyata orang itu tetep nggak peduli sama kita yaudah niat atau motivasi dietnya tetep ada, hehehe.

2.      Atur pola makan

Bagian ini sebenarnya gampang-gampang susah sih. Saya pribadi orang yang dulu lemah iman banget soal makanan, karena mindset saya, makan makanan yang enak di lidah itu self reward banget, makanan apapun itu, mulai dari pentol pinggir jalan, sampai pizza dan kawan-kawannya. Eh tapi ternyata memberikan self reward tidak melulu dengan makanan yang cuma enak di lidah, tapi perlu tau juga yang enak dan nyaman di tubuh. Akhirnya saya mulai mengatur pola makan saya,  awal-awal diet mungkin terkesan ambis sekali

Sarapan : Buah bertekstur padat (misal : apel, melon, belimbing dsb).

Tujuannya tidak lain agar perut penuh dan mulut lelah mengunyah, jadi tidak dilanjutkan dengan babak-babak (sarapan) selanjutnya.

Makan siang : Nasi dengan porsi setengah dari biasanya, lauk normal apa aja yang ada, dan sayur yang porsinya lebih banyak.

Saya nggak pilih diet yang benar-benar melepas nasi, karena saya tahu saya nggak bakal bisa lepas dari sego sambel, kan bakal sedih banget nantinya hehehe. Selain itu, saya juga takut nantinya ketika udah bisa makan nasi, akhirnya kesenengan dan maruk. Jadi saya pilih mengurangi saja.

Makan sore atau malam : Enggak ada, karena saya sudah berhenti mengunyah dari jam 3 sore

TAPI.....

Ternyata tiap malam saya lapar, asli. Awalnya saya mengira lapar itu biasa, emang karena diet, ya itu konsekuensinya, tapi akhirnya otak pun jadi mandek dan enggak bisa mikir, akhirnya saya sadar, mungkin ada yang nggak beres dengan pola makan saya. Akhirnya saya berusaha menyesuaikan dengan pola lainnya

Sarapan : Buah bertekstur padat, tapi sekarang lebih sering dibarengi sama oatmeal juga.

Makan siang :  Masih tetap sama, nasi dengan porsi secukupnya, lauk normal apa aja yang ada dan sayur yang porsinya lebih banyak.

Makan sore atau malam : Kalau ngerasa nggak terlalu banyak aktivitas, lebih sering cuma makan buah atau sayur lagi, atau jus aja tanpa gula.

POIN : makanan yang semakin dikurang-kurangin itu enggak bagus juga, perlu tau kebutuhan tubuh seberapa, jangan ngikutin ego pengen cepet kurus hehehe.

Cheating Meal

Siapa bilang diet nggak boleh jajan atau ngemil enak? Saya masih terus makan enak selama diet, kembali ke prinsip awal saya yang nggak pengen maruk ketika diet sudah berakhir. Bedanya, untuk hal ini, saya sedikit lebih effort. Es krim, seblak dan mie pedas masih jadi partner setia, dengan sedikit perubahan tentunya. Misalnya,

Es krim : Saya mengolah buahnya sendiri, menghaluskan dengan blender dan menambahkan yoghurt atau susu low fat.

Seblak : Memodifikasi isi seblak dengan porsi sayur lebih banyak, tanpa mie, tanpa makroni, hanya sayur (sawi & jamur), telur, dan pentol, yang pasti harus pedas & micin! Hehehehe.

Mie Pedas : Lebih seringnya saya beli mie instan, memasak separuh bagiannya saja dan menambahkan sayur dan cabe sesuai kebutuhan saya, saya tidak mengurangi bumbunya.

Dan berbagai hack lainnya. Hehehe.

3.       Olahraga rutin

Saya termasuk kaum rebahan! Wkwkwkwk, tapi pada akhirnya saya mencoba. Saya nggak daftar gym atau jogging, karena emang ngerasa bukan pola itu yang cocok untuk saya. Bisa jadi saya bikin beribu alasan untuk memberatkan langkah saya ke gym atau keluar rumah jadilah saya beli alat olahraga satu persatu, enggak perlu yang mahal, pokoknya yang bisa dipake rutin, yang keliatan depan mata, syukur-syukur kalo rada mahal nantinya jadi kepikir “aduh duit saya mandek, ayo kudu dimaksimalin pakenya!” wkwkwkwk. Posting anggaran yang semula untuk membeli jajan, berganti menjadi posting untuk membeli beberapa peralatan (yang masih bisa digunakan berkelanjutan, seneng nggak sih jadinya? Hehehe). Atau kalo emang olahraga masih terlalu berat buat dilakuin, bisa mulai dengan perbanyak gerak. Misalnya, habis belanja dari minimarket, taruh seluruh belanjaan di depan, terus taruh aja satu-satu ke tempatnya, bolak-balik, nggak efektif, tapi lumayan lah buat mulai gerak.

4.       Kurangi gula

Saya temasuk addict sama yang manis-manis (tidak terkecuali senyum dan janji manisnya, ehehehe). Pada fase ini saya benar-benar mengurangi minuman manis, apalagi minuman yang sifatnya berat (menurut saya), semacam coklat atau latte yang lucu-lucu. Lama kelamaan es teh, kopi, wedang jeruk, semua tanpa gula, dan ternyata (buat saya) itu lebih nyaman karena nggak ada after taste-nya.

5.       Perbanyak air putih

Ini ngaruh banget sih, saya pernah menonton salah satu video Youtube dari Kak Yulia Baltschun dan beliau mengatakan bahwa terkadang dehidrasi sering menimbulkan efek lapar yang palsu, jadi tidak ada salahnya untuk mememinum air putih dengan porsi yang lebih banyak untuk memastikan apakah benar itu lapar atau hanya ‘lapar palsu’?

6.       Ubah mindset “self-reward”.

Sejujurnya saya tipe orang yang sangat memanjakan diri sendiri. Setiap kali saya berhasil mengerjakan atau melewati sesuatu dengan baik, salah satu reward utamanya yaa makan enak! Wkwkwk, tapi ternyata hal ini menjadi penyesalan pada akhirnya, karena saya jadi tersiksa sendiri. Lalu apa pengganti self-reward tsb? Ya semuanya balik ke pribadi masing-masing apa goalsnya? Lebih pd pake eksperimen make up? Lebih bebas milih-milih baju? Monggo, sesuaikan dengan kebutuhan itu.

7.       Buat tracking dengan aplikasi.

Ada beberapa aplikasi untuk smartphone yang saya gunakan untuk ‘menyemangati’ diet saya, salah satunya Fat Secret (kalau tidak salah), intinya sih kita bisa tracking progress penurunan berat badan kita, dan cek kalori dari makanan yang akan kita makan. Kita pun jadi lebih selektif untuk memilih dan memilah makanan. Trust me, ini beneran bikin happy kal liat grafik berat bisa turun hehehe.

Total dari semua yang saya lakukan, saya turun 16 kilo dalam waktu 8 bulan. Masa evaluasi saya adalah 3 bulan pertama, selama 3 bulan pertama itu saya berhasil menurunkan berat badan dan baik-baik saja, berarti diet itu cocok untuk saya. Dan ketika saya sudah berada di target yang saya inginkan, saya berusaha beradaptasi dengan pola makan baru saya, yang kali ini tujuannya untuk menjaga berat badan, bukan terus menurunkan. Tapi ternyata ...... godaan itu selalu ada bung, dan saat ini saya kembali naik 4 kilo dalam waktu 6 bulan karena sudah jarang olahraga wkwkwkwk (emang sok sibuk anaknya). Ya sudah nggak papa, yuk mari kita mulai kembali dietnya. Semangattt!

Kamis, 02 Januari 2020

Pesan dari Bapak di Kereta

    Sore hari, di tengah perjalanan kereta Malang-Surabaya, seorang bapak berumur hampir 60 tahunan bingung mencari kursi kosong dan akhirnya memilih duduk diantara saya dan seorang pemuda lain yang sedang asik bermain handphone. Seusai saya menutup telpon dari salah satu teman yang curhat tentang kisah cinta anak muda eaa, beliau bertanya “habis buka sesi konseling, mbak?”.
    Dari kalimat pendek tersebut percakapan kami terus berlanjut. Bapak tsb mengeluarkan sebuah buku, yang diberikan secara cuma-cuma kepada saya, beliau bilang memang sengaja PP Sidoarjo-Malang buat beli buku yang sebenarnya sudah beliau punya (dan beli berulang kali). 
Buku pemberian bapak tersebut. 
Pada perjalanan tersebut
, beliau membeli buku itu sebanyak lima, memang sengaja untuk diberikan kepada siapa saja. Wah, saya termasuk orang yang terpilih, rupanya! Kata beliau, anak muda harus banyak baca, serta paham soal apa dan bagaimana itu budaya. Banyak yang saya kagumi dari pemikiran beliau tentang budaya, termasuk tentang bagaimana cara beliau secara tidak langsung mendorong saya untuk membaca buku yang khusus membahas tentang budaya. Yah meskipun saya kuliah di lingkungan FISIP, yang sebenarnya seringkali kali bersinggungan dengan antropologi dan budaya, tapi ternyata saya belum ada apa-apanya. Hehehe.
    Setelah asik berdiskusi tentang budaya, bapak tersebut kembali bercerita tentang hakikat manusia, tentang bagaimana manusia bersikap, dan yang paling saya ingat adalah tentang berbuat kebaikan. Beliau bilang, saat ini semakin banyak orang “baik” didasarkan pada klaim dirinya sendiri. Padahal sebenarnya kebaikan dalam diri kita susah sekali untuk diukur. Kalau dari pandangan beliau, kebaikan itu baru tampak ketika ada keburukan, sama seperti kertas putih yang baru keliatan putihnya (baiknya) ketika ia disandingkan dengan warna hitam, misalnya. Dalam kehidupan ini, kita selalu dipertemukan dengan hal-hal yang banyak disebut sebagai ujian, yang pada akhirnya menciptakan level dalam kehidupan (atau kebaikan) itu sendiri, yang kurang lebih seperti ini, 
Pertama, keburukan yang dibalas dengan keburukan. Nampaknya sepele, karena terkesan imbang, dengan dalih “apa yang ia tanam, itu yang ia tuai”. Tapi toh sebenarnya kita juga tidak tahu, apakah balasan  yang kita lakukan itu adalah buah yang dituai oleh orang lain, atau malah apa yang sedang kita tanam, kan
Kedua, keburukan yang tidak dibalas dengan apa-apa. Sebenarnya terkesan standard, tapi lumayan bisa bikin level kita naik, karena kita tidak berusaha melakukan hal buruk yang sama dengan apa yang orang lain lakukan.
Ketiga, keburukan yang dibalas dengan kebaikan. Latihannya berat, bisa jadi  butuh waktu tahunan. Ini level yang tinggi, karena tidak semua orang pada akhirnya bisa berada pada level ini. Manusia yang pada dasarnya punya sifat iri, dengki, dendam, pada level ini bukan hal itu lagi yang dia utamakan, tapi lebih kepada bagaimana dia bisa mengelola dirinya sendiri, menahan amarahnya, dan menunjukkan kepeduliannya.
    Kebaikan dalam diri itu perlu diolah, diasah, agar kita terbiasa, katanya. Terlepas dari semua level yang disebutkan, Bapak tsb mengatakan bahwa nantinya kalau kita sudah bersikap baik, jangan pernah mengharap balasan baik juga, tapi  kita nggak perlu khawatir, karena sebenarnya energi dalam diri kita sifatnya tarik menarik, seperti magnet, bedanya tarik-menarik dengan hal yang sejenis. Energi positif nantinya juga akan dikelilingi energi positif, begitu pun sebaliknya. Kuncinya coba buat energi positif dari diri sendiri dulu, suatu hari, lainnya pasti mengikuti.
    “Oh iya mbak, ada 3 hal di dunia ini yang bikin kita bodoh dan kehilangan kendali, yakni dendam, benci, dan cinta”. Kita sama-sama tahu kalau dendam dan benci memang cenderung berpotensi melukai, tapi ada apa dengan cinta?  Beliau bilang, sama halnya dengan dua lainnya, rasa cinta kalau berlebihan enggak baik, bisa jadi tujuan hidupnya malah berbelok. “Jadi, cintai secukupnya aja ya mbak, biar imbang hidupnya”, tambah beliau. Jadi, jangan bucin guys! WKWKWK. Setelah nasihat tsb, beliau turun di stasiun Sidoarjo, dan saya lanjut ke Surabaya dengan isi kepala yang dipenuhi wejangan-wejangan beliau. Sederhana, tapi sangat mengena. Terima kasih banyak, pak!

Sabtu, 27 Juli 2019

Skenario

Malem ini iseng liatin arsip story di Instagram, lalu menemukan salah satu video yang bikin ‘gemes’ liatnya. Sekitar 1 tahun yang lalu, ketika acara buka bersama angkatan saya diadakan, seperti biasa, ada momen tukar kado secara acak, tiba-tiba seorang teman mendapat sebuah “test pack” sebagai kadonya, dia cuma ketawa-ketawa dan bilang “kayaknya aku yang pecah telor pertama”  (re: menikah paling awal diantara temen seangkatan) padahal waktu itu dia belum ada pasangan, bahkan kayaknya di saat itu pun dia dan pasangannya belum saling kenal. Satu tahun kemudian, ternyata emang benar dia yang pecah telor, dan akan menikah beberapa hari lagi. Ucapan (dan doa) dia beneran terwujud!
Sama seperti waktu kelulusan dan pekerjaan yang kata orang, masing-masing punya “own timeline”, ternyata soal pasangan pun demikian. Siapa kira dia yang kemarin masih ayem sendiri-sendiri aja ternyata dia-lah yang lebih dulu berada pada fase itu, timeline dia untuk menikah. Atau mungkin benar kalo peran kita di dunia adalah menjalankan skenario yang udah ada? Coba pikir lagi.
Siapa yang dengan isengnya bawa kado test pack?
Kenapa bisa dia yang dapet?
Kenapa dia beneran yang akhirnya nikah duluan?
Pasti ada skenarionya, skenario Tuhan, maha luar biasa, bahkan pada waktu dan orang yang tidak terduga.
Dan skenario tidak hanya terbatas pada waktu, tapi juga pada siapa hati akhirnya berlabuh, siapa sangka dia bisa secepat itu yakin untuk membagi mimpi bersama satu orang yang sama selamanya? Pada orang yang mungkin belum lama dikenalnya, tapi bisa membuat dia percaya, bahwa di halaman skenario selanjutnya, mereka ditakdirkan untuk bersama.
Karena soal  jodoh bukanlah ajang balapan, siapa yang larinya paling kencang belum tentu dia yang tiba duluan. Selain skenario Tuhan, bisa jadi semua itu tentang kesiapan. Kesiapan untuk bertanggung jawab dengan diri kita sendiri, dengan keluarga, bahkan dengan pasangan dan keluarga kecil kita nanti. Menyatukan dua kepala itu susah, apalagi menyatukan dua keluarga, turut bangga pada kalian, yang sudah berani menentukan pilihan.
Eh, saya mah siapa ya sok-sok bahas soal jodoh dan skenario Tuhan (?)
Tapi dari situ saya percaya, bahwa dalam skenario Tuhan,  jodoh memang sudah digariskan, entah kapan dan dengan siapa, bahkan bagaimana cara bertemunya, dan kapan kita siapnya. Teruntuk kalian, yang mungkin masih satu perjuangan dengan saya (menebak-nebak siapa jodohnya), tetap tenang guys, karena skenario untuk kita sudah ada, entah  dengan siapa dan kapan waktunya tiba. Tinggal tunggu saja tanggal mainnya! *menyemangati diri sendiri*.
Percayalah, skenario Tuhan memang penuh rahasia, bisa jadi saya dan Anda berada dalam skenario yang sama (?) Hehehehehee.

Rabu, 24 April 2019

Sebatas Teman (?)


Berhentilah bermain kode-kodean,
Karena bisa jadi pesanmu tidak tersampaikan
Atau aku yang menganggapnya berlebihan
Lebih parah lagi kalau selama ini kau anggap itu hanya bercandaan
Aku pikir kau harap kita jadi pasangan
Padahal inginmu kita hanya sebatas teman. 
.
.
p.s : tidak sedang mengirim sinyal pada siapa-siapa, hanya sebatas menguji diri sendiri buat bikin tulisan gini. hehehe. 

Sabtu, 20 April 2019

Kembali

Harusnya malam ini saya berkutat dengan skripsi, mengingat deadline pengumpulan yang sudah bisa dihitung hari, tapi saya masih bingung mencari inspirasi, agar pembahasan dalam skripsi saya tidak terkesan basi. Saya menyadari, sudah cukup lama saya meninggalkan blog ini, beralih dengan media lain yang terkesan lebih masa kini, sampai akhirnya satu pertanyaan terus membayangi, “kenapa saya tidak menulis kembali?”
Setelah sekian lama pergi, tidak jarang saya berpikir mengenai topik yang menarik dan bisa saya tulis disini. Satu dua kali saya siapkan beberapa materi, sayangnya hampir tidak ada yang terealisasi. Kini saya kembali, dengan kisah baru yang semoga menarik untuk diikuti. Setelah membongkar postingan terdahulu yang telah menjadi memori, hampir semua tulisan kembali saya jelajahi. Membaca tulisan-tulisan awal di blog ini, seketika terpikir “ngapain nulis kayak gini?”, lalu berlanjut pada tulisan di masa-masa labil saya yang sekarang membuat saya geli, hingga tulisan tentang kepergian adik saya yang membuat saya kembali bersedih, ditambah dengan postingan yang kini berada di draft karena dihapus dari peredaran dan dibiarkan tersimpan rapi. Melihat kembali apa yang telah saya lewati, tidak sedikit pun ada hal yang harusnya saya sesali. Karena dibalik semua cerita yang saya bagi, ada sesuatu yang bisa dipelajari. Setidaknya untuk diri saya sendiri. Hihihi. Ternyata saya tumbuh dan berkembang melalui kata dan tulisan yang dulu saya tuliskan sepenuh hati, dan menganggap media ini sebagai diary. Saya tidak membiarkan kisah saya berlalu tanpa jejak yang berarti, melainkan dalam rangkaian kata dan tulisan yang bisa saya baca dan ingat lagi.
Sebelum tulisan ini saya akhiri, bisa jadi kalian sudah mengerti. Tulisan ini memang banyak diakhiri dengan bunyi “I”, tampak seperti sudah layak memenuhi tugas “Penulisan Kreatif”, salah satu mata kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi. Wah ternyata saya sudah terlalu banyak basa-basi, yasudah saya pamit kembali pergi, untuk menuntaskan kewajiban terakhir seorang mahasiswi, yakni mengerjakan skripsi. Sampai bertemu di tulisan saya nanti!

p.s : tulisan ini diawali tanpa perencanaan, dilanjutkan dengan sengaja, dan diakhiri dengan mumet kudu lanjutin pake kata apa hehehe. 

Jumat, 19 April 2019

Back to Random Chat

Setelah sekian lama nggak pernah nulis, akhirnya menemukan sesuatu yang baru untuk ditulis, bukan baru, lebih ke melanjutkan topik  yang dulu pernah saya tulis.Beberapa tahun yang lalu saya sempat menulis ulasan tentang random chat, yang akhirnya mempertemukan saya dengan banyak orang dengan berbagai tipe obrolan yang berbeda, dan baru-baru ini saya kembali mengunjungi salah satu situs random chat, bermula karena iseng dan akhirnya berujung ketemu sama orang yang akhirnya cukup mengobrak-abrik pikiran dan keyakinan saya *eaea, ini lebay sih*
Berbeda dengan orang-orang yang biasa saya temui, setelah saling sapa, dia memberikan pertanyaan tentang “apa yang kamu ketahui soal agama?” wah kaget dong. Kalau di lingkungan saya kuliah, topik seperti ini lebih sering dilontarkan teman-teman saya yang tidak mempercayai Tuhan atau tidak sedang menganut agama tertentu. Akhirnya saya menyebutkan salah satu keraguan dari apa yang selama ini saya yakini, tentang pemikiran saya yang belum pernah saya ceritakan, tapi di satu sisi saya penasaran. Dugaan saya, dia akan membenarkan keraguan saya, menambahnya dengan fakta atau opini yang mungkin akan semakin membuat saya ragu. Tapi ternyata salah, dia memberikan penjelasan dengan lengkap, tidak cukup hanya berupa tulisan, malam itu juga  kami memutuskan untuk melanjutkan diskusi melalui telpon. Padahal saya tipe orang yang nggak terlalu suka telpon loh! Asli. Apalagi sama stranger. HEHEHE.
Selama kami berdiskusi di telpon, ternyata banyak poin yang menurut saya menarik. Hal yang paling membuat saya senang adalah argumen yang dia sampaikan tidak hanya berdasarkan opini, tapi saya juga diajak untuk kembali membaca kitab suci agama saya, lebih dari sekedar membaca, tapi  juga memahami makna yang berusaha disampaikan, mempertanyakan, dan mencari tahu realitanya, sehingga saya benar-benar menerima dan meyakini apa yang selama ini (sepertinya) saya ketahui. Satu jawaban yang saya peroleh malam itu dari obrolan kami adalah  ternyata benar katanya, bahwa hidayah itu datang dari mana saja, termasuk hidayah bagi saya untuk lebih banyak membaca dan belajar apa yang diajarkan agama saya, tidak hanya mendengar dari orang lain dan mempercayainya begitu saja. Siapa sangka ternyata dari random chat, saya sadar bisa dapet hidayah juga lo ! Hehehe.

p.s : Ini baru opening, coming soon akan ada diskusi kami selanjutnya ! 

Kamis, 16 Agustus 2018

Dewa 19 Memang Juara

Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya. 
Menahan rasa ingin jumpa
Percayalah padaku aku pun rindu kamu, ku akan pulang
Melepas semua kerinduan, yang terpendam...



Hayo ngaku, pasti bacanya pake nada, ya? Ehehe. 

Dewa 19 dalam video klip "Kangen".
(https://www.youtube.com/watch?v=RYGgSRtYxd0)
Mungkin hanya sebagian kecil dari Anda yang berhasil untuk tidak membaca kalimat tersebut  dengan nada yang berbeda dari lagu “Kangen milik Dewa 19”. Salah satu lagu ciptaan Ahmad Dhani yang sampai saat ini masih sering diputar dimana saja. Beberapa waktu terakhir, nama Ahmad Dhani banyak diliput media. Bukan karena karya berupa lagu-lagunya, tapi karena keputusannya untuk terjun ke dunia politik maupun persoalan kehidupan pribadinya. Padahal jujur, saya termasuk orang yang rindu dengan karya-karya Ahmad Dhani, salah satu sosok besar dalam band Dewa 19 (Dewa), pun sepertinya Anda juga demikian.

Setelah memutuskan untuk bubar, Dhani pernah menyatakan bahwa "Dewa adalah band nostalgia", dan saya merasa Dhani (dan karya-karyanya) berhasil untuk hal itu. Nostalgia, kenangan manis yang tidak bisa dilupakan. Tepat untuk lagu-lagu Dewa 19 yang rasanya akan sangat sulit untuk dilupakan. Contohnya saja lagu "Kangen", yang ternyata sudah lahir jauh lebih dulu sebelum saya ada, yakni di tahun 1992. Sudah 26 tahun, dan saya (serta kawan seusia saya) familiar dengan liriknya. Rasanya lagu ini pun sudah menjadi lagu lintas generasi, yang bisa dinyanyikan ayah, ibu dan anaknya secara bersama. Belum lagi fakta bahwa jumlah cover lagu tersebut juga masih terus bertambah, dan saya yakin para peng-cover ini pun usianya tidak lebih dari usia lagu ini. Oh ya, tidak bisa dipungkiri juga kalau ternyata lagu ini juga sering menjadi lagu wajib bagi Anda ketika asyik ber-karaoke, bukan?

Kalau saya bilang, lagu-lagu Dewa 19 memang lagu yang tidak lekang oleh waktu. Sampai saat ini pun lagu-lagunya masih menjadi pilihan utama saya. Kalau lah saya rindu, lagu "Kangen" pasti tidak pernah absen, pun ketika saya patah hati, lagu "Pupus" atau "Risalah Hati" masih menjadi pilihan. Belum lagi sejumlah lagu lain, misalnya Separuh Nafas, Selimut Hati, Roman Picisan, dll. Mungkinkah Anda juga begitu?

Kembali pada persoalan cover lagu, cukup banyak cover lagu yang berhasil membawakan lagu-lagu Dewa 19 dengan baik, tapi menurut pendapat pribadi saya ada 'sesuatu' dalam lagu tersebut yang belum bisa melekat pada penyanyi lain dan memang versi asli tetap menjadi juara. Semacam ada greget yang memang cuma ada pada mereka yang tergabung dalam Dewa 19. 

Kekaguman saya tidak berhenti disitu. Kita sama-sama tau, nyawa sebuah band hampir selalu terletak pada vokalis. Suara seperti apa yg kita dengar, disitulah kita dengan mudah mengenali "oh ini band A..." Tidak banyak band yang masih bisa survive dalam menghadapi pergantian vokalis, tapi Dewa19 berhasil. Saya masih belum benar-benar yakin nyawa band ini ada pada siapa, karena toh Ari Lasso dan Once Mekel sama-sama berhasil menghidupkan Dewa 19, dengan sama baiknya meskipun warna suaranya (menurut saya) cukup berbeda. Karakter suara Ari Lasso melekat cukup kuat pada lagu “Kangen”, sama halnya dengan karakter suara Once Mekel yang tidak bisa dilepaskan dari lagu “Risalah Hati”, keduanya sama-sama juara.
Akhir kata, dari semua yang saya sampaikan, apakah Anda juga sependapat dengan saya? kalau tidak sependapat juga tidak masalah, toh Dewa 19 tetap menjadi juara.... paling tidak di hati saya. Ehehehe.


Sabtu, 16 September 2017

Sampai Jumpa, Angga (3)

Kata ‘andaikan’ nyatanya selalu hadir di setiap perpisahan”
Hari ini adalah hari ke-seratus (berdasarkan hitungan Jawa) perpisahan antara kami dan Angga. Tepat 100 hari ini juga semua rutinitas yang melibatkan aku dan adikku hilang. Sungguh, rasanya nggak pernah kebayang buat ada di detik-detik terakhir, di pemakaman dan di hari-hari tahlil adikku sendiri. Aku dan Angga cuma dua bersaudara, kemana-mana selalu bersama *ini beneran*. Buat ukuran kakak-adik yang beda usianya 4 tahun, kami terhitung akur. Sekali-dua kali pernah kita bertentangan, yang nantinya ditutup dengan aku mentraktir Angga, Angga mentraktir aku, atau hanya sepucuk surat yang dikirim lewat celah dibawah pintu kamar, nggak jarang pula tiba-tiba baikan tanpa alasan.
Soal kedekatan? Hampir setiap malam sebelum tidur, salah satu rutinitasku adalah mampir ke kamar Angga, cuma buat liat “oh adekku udah tidur, lucu kayak bayi” *meskipun waktu itu dia udah kelas X SMA*. Sama halnya kayak Angga yang selalu spam di chatroom kalo akunya nggak pulang-pulang dari kampus. Sebagai kakak yang rasanya selalu menganggap adiknya masih kecil, aku terhitung cukup sering iseng ke Angga, dan waktu Angga marah, aku cuma bilang “Adekku lo cuma 1, kalo bukan kamu yg tak godain lo siapa lagi?”. Bener-bener udah nggak ada lagi.
Ditarik dari silsilah keluarga, mama lahir dengan 11 saudara, pun Papa lahir dengan 6 saudara. Tapi dulu aku nggak pernah iri sama orang yang punya banyak saudara. Karena aku yakin, aku punya 1 adik yang dekatnya luar biasa. Setiap aku, mama, papa & Angga pergi, Angga pasti gandeng tangan aku, terus bercanda apa aja yang rasanya  ga ada beda antara lucu & ga jelas. Angga ibarat hasil fotokopi-nya Papa. Mirip banget! Aku sering menyebutnya kembar kecil (Angga) & kembar besar (Papa). Mama dan Papa selalu bilang “Mbak sama adek harus rukun, nanti kalo ada apapun ya harus dihadapi berdua, kalo bukan kalian yang saling bantu, siapa lagi?” Sekarang aku sendiri.
            Pernah suatu hari waktu itu aku pengen banget makan Maicih, tapi aku yang dasarnya boros banget lagi ga ada uang buat beli gituan wkwk, Angga dengan baiknya beliin aku Maicih meskipun dia nggak makan sama sekali karena emang nggak suka pedes.
            Bahkan kebaikan Angga lebih dari sebungkus Maicih.
            Sore itu aku, mama, papa, Angga pergi ke sebuah toko jam tangan yang cukup besar di pusat kota. Angga pengen banget beli jam tangan yang harganya 5x, aku juga pengen beli jam tangan, tapi aku nggak mau pake uang aku sendiri wkwk, akhirnya Angga bilang “Mbak Anggi mau yang itu ta? Harganya berapa? Loh, yaudah aku ganti jam yg ini aja (harganya setengah jam awal) biar bisa beli jamnya mbak Anggi sekalian”. Sungguh. Hari itu, bukan hari ulang tahunku, tapi dia sebaik itu mengganti pilihannya dia buat aku.

            Hampir setiap hari setelah kepergian Angga, mama, papa, aku dan orang-orang terdekat kami bilang “Andaikan Angga nggak sakit”, “Andaikan waktu itu cepet dirujuk”, “Andaikan....” dan “Andaikan..” lainnya. Kata ‘andaikan’ akan selalu ada di setiap kejadian serupa, karena kita nggak akan pernah siap sama yang namanya perpisahan. Kata ‘andaikan’ semakin lama makin membuat kita tidak bisa menerima kenyataan. Aku percaya, setiap orang punya takdirnya masing-masing. Aku nggak bisa menahan kepergian Angga, aku pun nggak bisa meminta penundaan atas kepergianku nantinya. Bukan aku nggak sayang Angga dan bisa semudah itu melepaskan, tapi apakah ada jalan selain berusaha menerima dan mengikhlaskan?
            Sempat terbayang, mungkin ketika Angga pergi di umur yang lebih dewasa nantinya kita akan lebih siap, padahal aku yakin tidak. Kita akan selalu berpacu dengan kata “andaikan dia bisa lebih ....” dan seterusnya. Sungguh bullshit sekali kalo aku bilang kami kuat di hari-hari berikutnya. Hampir 16 tahun bersama di segala suasana tidak semudah itu dihapus dengan kata ‘ikhlas’ tapi nyatanya kata ‘andaikan’ juga bukan menjadi kata penghiburan.
            Belajar dari perpisahan antara aku dan Angga, rasanya mulai sekarang kita perlu lebih peka sama tanda-tanda atau perubahan yang menunjukkan indikasi adanya perpisahan. Bahkan tanda sejelas apa yang sudah dikasih Angga, nyatanya aku masih melewatkan beberapa request yang aku kira itu cuma permintaan biasa, andaikan waktu itu aku nurutin apa kata Angga? Walaupun kadang emang kayak drama, tapi sungguh ketika semuanya udah nggak mungkin diwujudkan, yang tertinggal hanya kata “andaikan”. Dan hal paling berat dari sebuah perpisahan adalah bukan hanya karena hilangnya kehadiran orang tersebut, tapi juga hilangnya rutinitas dan impian-impian yg ingin dicapai bersama.

Sampai jumpa, Angga!