Sore
hari, di tengah perjalanan kereta Malang-Surabaya, seorang bapak berumur hampir
60 tahunan bingung mencari kursi kosong dan akhirnya memilih duduk diantara
saya dan seorang pemuda lain yang sedang asik bermain handphone. Seusai saya menutup telpon dari salah satu teman yang
curhat tentang kisah cinta
anak muda eaa, beliau bertanya “habis buka sesi konseling, mbak?”.
Dari
kalimat pendek tersebut percakapan kami terus berlanjut. Bapak tsb mengeluarkan
sebuah buku, yang diberikan secara cuma-cuma kepada saya, beliau bilang memang
sengaja PP Sidoarjo-Malang buat beli buku yang sebenarnya sudah beliau punya
(dan beli berulang kali).
Pada perjalanan tersebut, beliau membeli buku itu
sebanyak lima, memang sengaja untuk diberikan kepada siapa saja. Wah, saya
termasuk orang yang terpilih, rupanya! Kata beliau, anak muda harus banyak
baca, serta paham soal apa dan bagaimana itu budaya. Banyak yang saya kagumi
dari pemikiran beliau tentang budaya, termasuk tentang bagaimana cara beliau
secara tidak langsung mendorong saya untuk membaca buku yang khusus membahas
tentang budaya. Yah meskipun saya kuliah di lingkungan FISIP, yang
sebenarnya seringkali kali bersinggungan dengan antropologi dan budaya, tapi
ternyata saya belum ada apa-apanya. Hehehe.
![]() |
| Buku pemberian bapak tersebut. |
Setelah
asik berdiskusi tentang budaya, bapak tersebut kembali bercerita tentang
hakikat manusia, tentang bagaimana manusia bersikap, dan yang paling saya ingat
adalah tentang berbuat kebaikan. Beliau bilang, saat ini semakin banyak orang
“baik” didasarkan pada klaim dirinya sendiri. Padahal sebenarnya kebaikan dalam
diri kita susah sekali untuk diukur. Kalau dari pandangan beliau, kebaikan itu
baru tampak ketika ada keburukan, sama seperti kertas putih yang baru keliatan
putihnya (baiknya) ketika ia disandingkan dengan warna hitam, misalnya. Dalam
kehidupan ini, kita selalu dipertemukan dengan hal-hal yang banyak disebut
sebagai ujian, yang pada akhirnya menciptakan level dalam kehidupan (atau
kebaikan) itu sendiri, yang kurang lebih seperti ini,
Pertama, keburukan yang dibalas dengan keburukan. Nampaknya sepele, karena
terkesan imbang, dengan dalih “apa yang ia tanam, itu yang ia tuai”. Tapi toh sebenarnya kita juga
tidak tahu, apakah balasan yang kita lakukan itu adalah buah yang dituai oleh orang lain, atau malah apa yang sedang
kita tanam, kan?
Kedua, keburukan yang tidak dibalas dengan apa-apa. Sebenarnya terkesan
standard, tapi lumayan bisa bikin level kita naik, karena kita tidak berusaha
melakukan hal buruk yang sama dengan apa yang orang lain lakukan.
Ketiga, keburukan yang dibalas dengan kebaikan. Latihannya berat, bisa
jadi butuh waktu tahunan. Ini level yang
tinggi, karena tidak semua orang pada akhirnya bisa berada pada level ini. Manusia
yang pada dasarnya punya sifat iri, dengki, dendam, pada level ini bukan hal
itu lagi yang dia utamakan, tapi lebih kepada bagaimana dia bisa mengelola
dirinya sendiri, menahan amarahnya, dan menunjukkan kepeduliannya.
Kebaikan
dalam diri itu perlu diolah, diasah, agar kita terbiasa, katanya. Terlepas dari
semua level yang disebutkan, Bapak tsb mengatakan bahwa nantinya kalau kita
sudah bersikap baik, jangan pernah mengharap balasan baik juga, tapi kita nggak perlu khawatir, karena sebenarnya
energi dalam diri kita sifatnya tarik menarik, seperti magnet, bedanya
tarik-menarik dengan hal yang sejenis. Energi positif nantinya juga akan
dikelilingi energi positif, begitu pun sebaliknya. Kuncinya coba buat energi positif
dari diri sendiri dulu, suatu hari, lainnya pasti mengikuti.
“Oh iya mbak, ada 3 hal di dunia ini yang
bikin kita bodoh dan kehilangan kendali, yakni dendam, benci, dan
cinta”. Kita sama-sama tahu kalau dendam dan benci memang cenderung berpotensi
melukai, tapi ada apa dengan cinta? Beliau bilang, sama halnya dengan dua lainnya, rasa cinta kalau berlebihan enggak baik, bisa jadi
tujuan hidupnya malah berbelok. “Jadi, cintai secukupnya aja ya mbak, biar
imbang hidupnya”, tambah beliau. Jadi, jangan bucin guys! WKWKWK. Setelah
nasihat tsb, beliau turun di stasiun Sidoarjo, dan saya lanjut ke Surabaya
dengan isi kepala yang dipenuhi wejangan-wejangan beliau. Sederhana, tapi sangat mengena. Terima kasih banyak,
pak!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar