Kamis, 02 Januari 2020

Pesan dari Bapak di Kereta

    Sore hari, di tengah perjalanan kereta Malang-Surabaya, seorang bapak berumur hampir 60 tahunan bingung mencari kursi kosong dan akhirnya memilih duduk diantara saya dan seorang pemuda lain yang sedang asik bermain handphone. Seusai saya menutup telpon dari salah satu teman yang curhat tentang kisah cinta anak muda eaa, beliau bertanya “habis buka sesi konseling, mbak?”.
    Dari kalimat pendek tersebut percakapan kami terus berlanjut. Bapak tsb mengeluarkan sebuah buku, yang diberikan secara cuma-cuma kepada saya, beliau bilang memang sengaja PP Sidoarjo-Malang buat beli buku yang sebenarnya sudah beliau punya (dan beli berulang kali). 
Buku pemberian bapak tersebut. 
Pada perjalanan tersebut
, beliau membeli buku itu sebanyak lima, memang sengaja untuk diberikan kepada siapa saja. Wah, saya termasuk orang yang terpilih, rupanya! Kata beliau, anak muda harus banyak baca, serta paham soal apa dan bagaimana itu budaya. Banyak yang saya kagumi dari pemikiran beliau tentang budaya, termasuk tentang bagaimana cara beliau secara tidak langsung mendorong saya untuk membaca buku yang khusus membahas tentang budaya. Yah meskipun saya kuliah di lingkungan FISIP, yang sebenarnya seringkali kali bersinggungan dengan antropologi dan budaya, tapi ternyata saya belum ada apa-apanya. Hehehe.
    Setelah asik berdiskusi tentang budaya, bapak tersebut kembali bercerita tentang hakikat manusia, tentang bagaimana manusia bersikap, dan yang paling saya ingat adalah tentang berbuat kebaikan. Beliau bilang, saat ini semakin banyak orang “baik” didasarkan pada klaim dirinya sendiri. Padahal sebenarnya kebaikan dalam diri kita susah sekali untuk diukur. Kalau dari pandangan beliau, kebaikan itu baru tampak ketika ada keburukan, sama seperti kertas putih yang baru keliatan putihnya (baiknya) ketika ia disandingkan dengan warna hitam, misalnya. Dalam kehidupan ini, kita selalu dipertemukan dengan hal-hal yang banyak disebut sebagai ujian, yang pada akhirnya menciptakan level dalam kehidupan (atau kebaikan) itu sendiri, yang kurang lebih seperti ini, 
Pertama, keburukan yang dibalas dengan keburukan. Nampaknya sepele, karena terkesan imbang, dengan dalih “apa yang ia tanam, itu yang ia tuai”. Tapi toh sebenarnya kita juga tidak tahu, apakah balasan  yang kita lakukan itu adalah buah yang dituai oleh orang lain, atau malah apa yang sedang kita tanam, kan
Kedua, keburukan yang tidak dibalas dengan apa-apa. Sebenarnya terkesan standard, tapi lumayan bisa bikin level kita naik, karena kita tidak berusaha melakukan hal buruk yang sama dengan apa yang orang lain lakukan.
Ketiga, keburukan yang dibalas dengan kebaikan. Latihannya berat, bisa jadi  butuh waktu tahunan. Ini level yang tinggi, karena tidak semua orang pada akhirnya bisa berada pada level ini. Manusia yang pada dasarnya punya sifat iri, dengki, dendam, pada level ini bukan hal itu lagi yang dia utamakan, tapi lebih kepada bagaimana dia bisa mengelola dirinya sendiri, menahan amarahnya, dan menunjukkan kepeduliannya.
    Kebaikan dalam diri itu perlu diolah, diasah, agar kita terbiasa, katanya. Terlepas dari semua level yang disebutkan, Bapak tsb mengatakan bahwa nantinya kalau kita sudah bersikap baik, jangan pernah mengharap balasan baik juga, tapi  kita nggak perlu khawatir, karena sebenarnya energi dalam diri kita sifatnya tarik menarik, seperti magnet, bedanya tarik-menarik dengan hal yang sejenis. Energi positif nantinya juga akan dikelilingi energi positif, begitu pun sebaliknya. Kuncinya coba buat energi positif dari diri sendiri dulu, suatu hari, lainnya pasti mengikuti.
    “Oh iya mbak, ada 3 hal di dunia ini yang bikin kita bodoh dan kehilangan kendali, yakni dendam, benci, dan cinta”. Kita sama-sama tahu kalau dendam dan benci memang cenderung berpotensi melukai, tapi ada apa dengan cinta?  Beliau bilang, sama halnya dengan dua lainnya, rasa cinta kalau berlebihan enggak baik, bisa jadi tujuan hidupnya malah berbelok. “Jadi, cintai secukupnya aja ya mbak, biar imbang hidupnya”, tambah beliau. Jadi, jangan bucin guys! WKWKWK. Setelah nasihat tsb, beliau turun di stasiun Sidoarjo, dan saya lanjut ke Surabaya dengan isi kepala yang dipenuhi wejangan-wejangan beliau. Sederhana, tapi sangat mengena. Terima kasih banyak, pak!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar