Sabtu, 27 Juli 2019

Skenario

Malem ini iseng liatin arsip story di Instagram, lalu menemukan salah satu video yang bikin ‘gemes’ liatnya. Sekitar 1 tahun yang lalu, ketika acara buka bersama angkatan saya diadakan, seperti biasa, ada momen tukar kado secara acak, tiba-tiba seorang teman mendapat sebuah “test pack” sebagai kadonya, dia cuma ketawa-ketawa dan bilang “kayaknya aku yang pecah telor pertama”  (re: menikah paling awal diantara temen seangkatan) padahal waktu itu dia belum ada pasangan, bahkan kayaknya di saat itu pun dia dan pasangannya belum saling kenal. Satu tahun kemudian, ternyata emang benar dia yang pecah telor, dan akan menikah beberapa hari lagi. Ucapan (dan doa) dia beneran terwujud!
Sama seperti waktu kelulusan dan pekerjaan yang kata orang, masing-masing punya “own timeline”, ternyata soal pasangan pun demikian. Siapa kira dia yang kemarin masih ayem sendiri-sendiri aja ternyata dia-lah yang lebih dulu berada pada fase itu, timeline dia untuk menikah. Atau mungkin benar kalo peran kita di dunia adalah menjalankan skenario yang udah ada? Coba pikir lagi.
Siapa yang dengan isengnya bawa kado test pack?
Kenapa bisa dia yang dapet?
Kenapa dia beneran yang akhirnya nikah duluan?
Pasti ada skenarionya, skenario Tuhan, maha luar biasa, bahkan pada waktu dan orang yang tidak terduga.
Dan skenario tidak hanya terbatas pada waktu, tapi juga pada siapa hati akhirnya berlabuh, siapa sangka dia bisa secepat itu yakin untuk membagi mimpi bersama satu orang yang sama selamanya? Pada orang yang mungkin belum lama dikenalnya, tapi bisa membuat dia percaya, bahwa di halaman skenario selanjutnya, mereka ditakdirkan untuk bersama.
Karena soal  jodoh bukanlah ajang balapan, siapa yang larinya paling kencang belum tentu dia yang tiba duluan. Selain skenario Tuhan, bisa jadi semua itu tentang kesiapan. Kesiapan untuk bertanggung jawab dengan diri kita sendiri, dengan keluarga, bahkan dengan pasangan dan keluarga kecil kita nanti. Menyatukan dua kepala itu susah, apalagi menyatukan dua keluarga, turut bangga pada kalian, yang sudah berani menentukan pilihan.
Eh, saya mah siapa ya sok-sok bahas soal jodoh dan skenario Tuhan (?)
Tapi dari situ saya percaya, bahwa dalam skenario Tuhan,  jodoh memang sudah digariskan, entah kapan dan dengan siapa, bahkan bagaimana cara bertemunya, dan kapan kita siapnya. Teruntuk kalian, yang mungkin masih satu perjuangan dengan saya (menebak-nebak siapa jodohnya), tetap tenang guys, karena skenario untuk kita sudah ada, entah  dengan siapa dan kapan waktunya tiba. Tinggal tunggu saja tanggal mainnya! *menyemangati diri sendiri*.
Percayalah, skenario Tuhan memang penuh rahasia, bisa jadi saya dan Anda berada dalam skenario yang sama (?) Hehehehehee.

Rabu, 24 April 2019

Sebatas Teman (?)


Berhentilah bermain kode-kodean,
Karena bisa jadi pesanmu tidak tersampaikan
Atau aku yang menganggapnya berlebihan
Lebih parah lagi kalau selama ini kau anggap itu hanya bercandaan
Aku pikir kau harap kita jadi pasangan
Padahal inginmu kita hanya sebatas teman. 
.
.
p.s : tidak sedang mengirim sinyal pada siapa-siapa, hanya sebatas menguji diri sendiri buat bikin tulisan gini. hehehe. 

Sabtu, 20 April 2019

Kembali

Harusnya malam ini saya berkutat dengan skripsi, mengingat deadline pengumpulan yang sudah bisa dihitung hari, tapi saya masih bingung mencari inspirasi, agar pembahasan dalam skripsi saya tidak terkesan basi. Saya menyadari, sudah cukup lama saya meninggalkan blog ini, beralih dengan media lain yang terkesan lebih masa kini, sampai akhirnya satu pertanyaan terus membayangi, “kenapa saya tidak menulis kembali?”
Setelah sekian lama pergi, tidak jarang saya berpikir mengenai topik yang menarik dan bisa saya tulis disini. Satu dua kali saya siapkan beberapa materi, sayangnya hampir tidak ada yang terealisasi. Kini saya kembali, dengan kisah baru yang semoga menarik untuk diikuti. Setelah membongkar postingan terdahulu yang telah menjadi memori, hampir semua tulisan kembali saya jelajahi. Membaca tulisan-tulisan awal di blog ini, seketika terpikir “ngapain nulis kayak gini?”, lalu berlanjut pada tulisan di masa-masa labil saya yang sekarang membuat saya geli, hingga tulisan tentang kepergian adik saya yang membuat saya kembali bersedih, ditambah dengan postingan yang kini berada di draft karena dihapus dari peredaran dan dibiarkan tersimpan rapi. Melihat kembali apa yang telah saya lewati, tidak sedikit pun ada hal yang harusnya saya sesali. Karena dibalik semua cerita yang saya bagi, ada sesuatu yang bisa dipelajari. Setidaknya untuk diri saya sendiri. Hihihi. Ternyata saya tumbuh dan berkembang melalui kata dan tulisan yang dulu saya tuliskan sepenuh hati, dan menganggap media ini sebagai diary. Saya tidak membiarkan kisah saya berlalu tanpa jejak yang berarti, melainkan dalam rangkaian kata dan tulisan yang bisa saya baca dan ingat lagi.
Sebelum tulisan ini saya akhiri, bisa jadi kalian sudah mengerti. Tulisan ini memang banyak diakhiri dengan bunyi “I”, tampak seperti sudah layak memenuhi tugas “Penulisan Kreatif”, salah satu mata kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi. Wah ternyata saya sudah terlalu banyak basa-basi, yasudah saya pamit kembali pergi, untuk menuntaskan kewajiban terakhir seorang mahasiswi, yakni mengerjakan skripsi. Sampai bertemu di tulisan saya nanti!

p.s : tulisan ini diawali tanpa perencanaan, dilanjutkan dengan sengaja, dan diakhiri dengan mumet kudu lanjutin pake kata apa hehehe. 

Jumat, 19 April 2019

Back to Random Chat

Setelah sekian lama nggak pernah nulis, akhirnya menemukan sesuatu yang baru untuk ditulis, bukan baru, lebih ke melanjutkan topik  yang dulu pernah saya tulis.Beberapa tahun yang lalu saya sempat menulis ulasan tentang random chat, yang akhirnya mempertemukan saya dengan banyak orang dengan berbagai tipe obrolan yang berbeda, dan baru-baru ini saya kembali mengunjungi salah satu situs random chat, bermula karena iseng dan akhirnya berujung ketemu sama orang yang akhirnya cukup mengobrak-abrik pikiran dan keyakinan saya *eaea, ini lebay sih*
Berbeda dengan orang-orang yang biasa saya temui, setelah saling sapa, dia memberikan pertanyaan tentang “apa yang kamu ketahui soal agama?” wah kaget dong. Kalau di lingkungan saya kuliah, topik seperti ini lebih sering dilontarkan teman-teman saya yang tidak mempercayai Tuhan atau tidak sedang menganut agama tertentu. Akhirnya saya menyebutkan salah satu keraguan dari apa yang selama ini saya yakini, tentang pemikiran saya yang belum pernah saya ceritakan, tapi di satu sisi saya penasaran. Dugaan saya, dia akan membenarkan keraguan saya, menambahnya dengan fakta atau opini yang mungkin akan semakin membuat saya ragu. Tapi ternyata salah, dia memberikan penjelasan dengan lengkap, tidak cukup hanya berupa tulisan, malam itu juga  kami memutuskan untuk melanjutkan diskusi melalui telpon. Padahal saya tipe orang yang nggak terlalu suka telpon loh! Asli. Apalagi sama stranger. HEHEHE.
Selama kami berdiskusi di telpon, ternyata banyak poin yang menurut saya menarik. Hal yang paling membuat saya senang adalah argumen yang dia sampaikan tidak hanya berdasarkan opini, tapi saya juga diajak untuk kembali membaca kitab suci agama saya, lebih dari sekedar membaca, tapi  juga memahami makna yang berusaha disampaikan, mempertanyakan, dan mencari tahu realitanya, sehingga saya benar-benar menerima dan meyakini apa yang selama ini (sepertinya) saya ketahui. Satu jawaban yang saya peroleh malam itu dari obrolan kami adalah  ternyata benar katanya, bahwa hidayah itu datang dari mana saja, termasuk hidayah bagi saya untuk lebih banyak membaca dan belajar apa yang diajarkan agama saya, tidak hanya mendengar dari orang lain dan mempercayainya begitu saja. Siapa sangka ternyata dari random chat, saya sadar bisa dapet hidayah juga lo ! Hehehe.

p.s : Ini baru opening, coming soon akan ada diskusi kami selanjutnya !