“Kata
‘andaikan’ nyatanya selalu hadir di setiap perpisahan”
Hari ini adalah hari
ke-seratus (berdasarkan hitungan Jawa) perpisahan antara kami dan Angga. Tepat
100 hari ini juga semua rutinitas yang melibatkan aku dan adikku hilang.
Sungguh, rasanya nggak pernah kebayang buat ada di detik-detik terakhir, di
pemakaman dan di hari-hari tahlil adikku sendiri. Aku dan Angga cuma dua
bersaudara, kemana-mana selalu bersama *ini beneran*. Buat ukuran kakak-adik
yang beda usianya 4 tahun, kami terhitung akur. Sekali-dua kali pernah kita
bertentangan, yang nantinya ditutup dengan aku mentraktir Angga, Angga
mentraktir aku, atau hanya sepucuk surat yang dikirim lewat celah dibawah pintu
kamar, nggak jarang pula tiba-tiba baikan tanpa alasan.
Soal kedekatan? Hampir
setiap malam sebelum tidur, salah satu rutinitasku adalah mampir ke kamar
Angga, cuma buat liat “oh adekku udah tidur, lucu kayak bayi” *meskipun waktu
itu dia udah kelas X SMA*. Sama halnya kayak Angga yang selalu spam di chatroom kalo akunya nggak pulang-pulang
dari kampus. Sebagai kakak yang rasanya selalu menganggap adiknya masih kecil,
aku terhitung cukup sering iseng ke Angga, dan waktu Angga marah, aku cuma
bilang “Adekku lo cuma 1, kalo bukan kamu yg tak godain lo siapa lagi?”.
Bener-bener udah nggak ada lagi.
Ditarik dari silsilah
keluarga, mama lahir dengan 11 saudara, pun Papa lahir dengan 6 saudara. Tapi
dulu aku nggak pernah iri sama orang yang punya banyak saudara. Karena aku
yakin, aku punya 1 adik yang dekatnya luar biasa. Setiap aku, mama, papa &
Angga pergi, Angga pasti gandeng tangan aku, terus bercanda apa aja yang
rasanya ga ada beda antara lucu & ga
jelas. Angga ibarat hasil fotokopi-nya Papa. Mirip banget! Aku sering
menyebutnya kembar kecil (Angga) & kembar besar (Papa). Mama dan Papa
selalu bilang “Mbak sama adek harus rukun, nanti kalo ada apapun ya harus
dihadapi berdua, kalo bukan kalian yang saling bantu, siapa lagi?” Sekarang aku
sendiri.
Pernah
suatu hari waktu itu aku pengen banget makan Maicih, tapi aku yang dasarnya
boros banget lagi ga ada uang buat beli gituan wkwk, Angga dengan baiknya
beliin aku Maicih meskipun dia nggak makan sama sekali karena emang nggak suka
pedes.
Bahkan
kebaikan Angga lebih dari sebungkus Maicih.
Sore
itu aku, mama, papa, Angga pergi ke sebuah toko jam tangan yang cukup besar di
pusat kota. Angga pengen banget beli jam tangan yang harganya 5x, aku juga
pengen beli jam tangan, tapi aku nggak mau pake uang aku sendiri wkwk, akhirnya
Angga bilang “Mbak Anggi mau yang itu ta? Harganya berapa? Loh, yaudah aku
ganti jam yg ini aja (harganya setengah jam awal) biar bisa beli jamnya mbak
Anggi sekalian”. Sungguh. Hari itu, bukan hari ulang tahunku, tapi dia sebaik
itu mengganti pilihannya dia buat aku.
Hampir
setiap hari setelah kepergian Angga, mama, papa, aku dan orang-orang terdekat
kami bilang “Andaikan Angga nggak sakit”, “Andaikan waktu itu cepet dirujuk”,
“Andaikan....” dan “Andaikan..” lainnya. Kata ‘andaikan’ akan selalu ada di
setiap kejadian serupa, karena kita nggak akan pernah siap sama yang namanya
perpisahan. Kata ‘andaikan’ semakin lama makin membuat kita tidak bisa menerima
kenyataan. Aku percaya, setiap orang punya takdirnya masing-masing. Aku nggak
bisa menahan kepergian Angga, aku pun nggak bisa meminta penundaan atas
kepergianku nantinya. Bukan aku nggak sayang Angga dan bisa semudah itu
melepaskan, tapi apakah ada jalan selain berusaha menerima dan mengikhlaskan?
Sempat
terbayang, mungkin ketika Angga pergi di umur yang lebih dewasa nantinya kita
akan lebih siap, padahal aku yakin tidak. Kita akan selalu berpacu dengan kata “andaikan
dia bisa lebih ....” dan seterusnya. Sungguh bullshit sekali kalo aku bilang kami kuat di hari-hari berikutnya.
Hampir 16 tahun bersama di segala suasana tidak semudah itu dihapus dengan kata
‘ikhlas’ tapi nyatanya kata ‘andaikan’ juga bukan menjadi kata penghiburan.
Belajar
dari perpisahan antara aku dan Angga, rasanya mulai sekarang kita perlu lebih
peka sama tanda-tanda atau perubahan yang menunjukkan indikasi adanya
perpisahan. Bahkan tanda sejelas apa yang sudah dikasih Angga, nyatanya aku
masih melewatkan beberapa request
yang aku kira itu cuma permintaan biasa, andaikan waktu itu aku nurutin apa
kata Angga? Walaupun kadang emang kayak drama, tapi sungguh ketika semuanya
udah nggak mungkin diwujudkan, yang tertinggal hanya kata “andaikan”. Dan hal paling berat dari sebuah perpisahan adalah bukan hanya karena hilangnya kehadiran orang tersebut, tapi juga hilangnya rutinitas dan impian-impian yg ingin dicapai bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar