Sabtu, 16 September 2017

Sampai Jumpa, Angga (2)

“Maaf ya Pa, belum bisa banggain mama sama papa”.
Aku udah nggak bisa banyak ngomong, mama pun begitu, cuma Papa (yg waktu itu belum tau kalimat terakhit Angga) yang tatag buat benerin infusnya. Aku Cuma liat dari samping, dan tiba-tiba Angga bilang “Maaf ya Pa, belum bisa banggain mama sama papa”. Aku cuma bisa nangis, antara berusaha menerima kenyataan dan masih nggak rela, kalaupun mau drama, harusnya nggak segini juga, Ngga. Setelah beres semuanya, Mama, papa dan Angga naik Ambulans ke RS X, mobil Papa dibawa tetangga, dan aku tetep naik motor kayak biasa, aku yakin kalau aku udah nggak sanggup nahan air mata, dan rasanya kalo semobil sama orang lain rasanya malah bikin gimana yaa... Aku nggak ikut ke RS X malem itu, karena berencana buat cuci baju yang ada di rumah biar besok bisa dipake buat hari-hari selanjutnya. Sambil memantau dari Whatsapp keluarga, ternyata Angga masih di UGD tanpa penanganan apa-apa, cuma infus aja.
“Mbak, salim, peluk”
Rabu pagi, Mama telpon aku dan minta cepat-cepat ke RS X, aku udah feeling nggak enak, meskipun aku masih berusaha posthink. Sampai di RS X yang besar banget dan aku buta arah, akhirnya sampailah aku di UGD dengan mama menyambut aku di depan pintu dan bilang “Udah ya, ikhlasin adekmu”. Aku nggak bisa percaya, sama sekali. Aku langsung lari ke tempat Angga, liat Angga yang rasanya udah nggak kuat lagi, infus udah minta dilepas dsb. Salah satu dokter minta Angga buat masuk di satu ruang dimana Angga bakal dapat alat bantu pernapasan di tenggorokan, tapi alat itu semacam gambling dalam sekitar 9 hari. Kalau memang rezekinya, Angga masih bisa hidup seterusnya dengan tetap pake alat itu, kalau memang takdirnya ya, Angga pergi sesuai dengan waktunya. Mama dan Papa nggak mau, mengingat pamit-pamit Angga selama ini, Mama dan Papa merasa, kalo Angga pake alat itu, kita ber-4 nggak bisa saling menguatkan, nggak ada sentuhan-sentuhan terakhir kami bergandengan, berdoa bersama, mengusap kepala Angga. Bukan berarti menyiksa, tapi kalaupun diobati, kami mau tetap bisa disamping Angga. Kami masih berusaha sabar menunggu giliran Angga masuk di ruang yang seharusnya. Meskipun ketika waktu menunggu itu, mulut kami sudah berkomat-kamit membaca beragam doa, melihat Angga yang dalam suara rintihnya berkata “ aku mau keluar sekarang, sekarang aja, itu sudah merah”, sambil menarik infusnya. Aku jelas merasa menjadi orang yang paling marah dan nggak bisa ikhlas, adikku cuma satu, dan masih banyak request Angga yang kemarin masih kelewat.
Setelah kami berada di poin berserah diri. Angga dapet ruang dan bisa ditangani secara seharusnya. Sayangnya, waktu sampe di ruang itu, Mama dan Papa masih dipusingkan dengan urusan administrasi. Sumpah pak, buk, kami akan mengurusnya secara baik-baik nanti, tapi tolong obatin adik saya dulu L.  Aku cuma bisa ngomel “percuma dokter segini banyak tapi nggak ada yang nolongin adek, admin itu bisa diurus nanti, tapi anak ini enggak”, tiba-tiba Angga yang udah dalam kondisi drop banget minta bangun, “pa bangun, mbak salim mbak, salim, peluk”. Tepat di posisi itu aku bener-bener nggak bisa ngomong apa-apa, cuma bisa nangis. “kamu mau kemana? Hati-hati ya dek”. Angga juga salim ke Papa. Salim adalah kebiasaan yang selalu dilakuin setiap salah satu dari kami mau pergi. Beberapa waktu kemudian, Angga bisa ditangani, meskipun Angga berubah jadi orang yang tiba-tiba kuat banget buat narik-narik infus dan teriak-teriak. Minta makanan/minuman manis, minta aku buat ngusir orang yang sebenernya aku nggak bisa liat orang itu, sampe akhirnya setelah aku dan papa balik dari urusan admin dan kami semua berkumpul, Angga semakin drop, beberapa kali detak jantungnya ilang dan harus dipompa. Sampai ketiga kalinya dengan hitungan tiga kali tiga puluhan, dan hasilnya tetap detak jantungnya ilang, Papa, Mama dan aku cuma bisa nangis. Kehilangan? Pasti. Kami langsung tlp beberapa orang terdekat dan semuanya nggak nyangka karena kami memang merahasiakan semuanya. Rabu sore semua orang terdekat berkumpul di rumah, dan aku sangat berterima kasih sama semua yang sudah menyempatkan waktu, tenaga, dan semua yang sudah diberikan, nggak nyangka melepas kepergian Angga akan dihadiri dengan sebegitu banyaknya orang yang sampe beberapa hari berikutnya pun masih terus datang. Oh iya, meskipun setelah pemakaman Angga langitnya gerimis tipis-tipis, nggak bikin basah semua, tapi bikin sejuk. Terima kasih yang tidak bubar waktu itu :’)

Mama dan Papa selalu bilang “kita ini keluarga harus saling melindungi, segala masalah yang ada harus dihadapin bersama ber4 ya”, dan rasanya kedepan kita nggak bisa melewati ber4 dek. Sedikit kebanggan, kami semua bisa bersama-sama ada di detik terakhirnya Angga, meskipun kadang juga masih miris belum bisa memenuhi request Angga buat makan ini-itu, buat bikin video bareng dan ya, begitu lah. Nggak ada satu pun dari kita yang bisa nebak kapan kita nggak ber4 lagi. Dan iyaaa, ucapan Angga soal banner itu nyata, Angga bener-bener pergi dan diiringi banyakkk sekali orang yang turut merasa kehilangan, serta permintaan salim di rumah sakit itu memang salim terakhir Angga untuk pergi selamanya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar