“Maaf ya Pa, belum bisa
banggain mama sama papa”.
Aku udah nggak bisa
banyak ngomong, mama pun begitu, cuma Papa (yg waktu itu belum tau kalimat
terakhit Angga) yang tatag buat
benerin infusnya. Aku Cuma liat dari samping, dan tiba-tiba Angga bilang “Maaf
ya Pa, belum bisa banggain mama sama papa”. Aku cuma bisa nangis, antara
berusaha menerima kenyataan dan masih nggak rela, kalaupun mau drama, harusnya
nggak segini juga, Ngga. Setelah beres semuanya, Mama, papa dan Angga naik
Ambulans ke RS X, mobil Papa dibawa tetangga, dan aku tetep naik motor kayak
biasa, aku yakin kalau aku udah nggak sanggup nahan air mata, dan rasanya kalo
semobil sama orang lain rasanya malah bikin gimana yaa... Aku nggak ikut ke RS
X malem itu, karena berencana buat cuci baju yang ada di rumah biar besok bisa
dipake buat hari-hari selanjutnya. Sambil memantau dari Whatsapp keluarga,
ternyata Angga masih di UGD tanpa penanganan apa-apa, cuma infus aja.
“Mbak, salim, peluk”
Rabu pagi, Mama telpon
aku dan minta cepat-cepat ke RS X, aku udah feeling
nggak enak, meskipun aku masih berusaha posthink.
Sampai di RS X yang besar banget dan aku buta arah, akhirnya sampailah aku
di UGD dengan mama menyambut aku di depan pintu dan bilang “Udah ya, ikhlasin
adekmu”. Aku nggak bisa percaya, sama sekali. Aku langsung lari ke tempat
Angga, liat Angga yang rasanya udah nggak kuat lagi, infus udah minta dilepas
dsb. Salah satu dokter minta Angga buat masuk di satu ruang dimana Angga bakal
dapat alat bantu pernapasan di tenggorokan, tapi alat itu semacam gambling dalam sekitar 9 hari. Kalau
memang rezekinya, Angga masih bisa hidup seterusnya dengan tetap pake alat itu,
kalau memang takdirnya ya, Angga pergi sesuai dengan waktunya. Mama dan Papa
nggak mau, mengingat pamit-pamit Angga selama ini, Mama dan Papa merasa, kalo
Angga pake alat itu, kita ber-4 nggak bisa saling menguatkan, nggak ada
sentuhan-sentuhan terakhir kami bergandengan, berdoa bersama, mengusap kepala
Angga. Bukan berarti menyiksa, tapi kalaupun diobati, kami mau tetap bisa
disamping Angga. Kami masih berusaha sabar menunggu giliran Angga masuk di
ruang yang seharusnya. Meskipun ketika waktu menunggu itu, mulut kami sudah
berkomat-kamit membaca beragam doa, melihat Angga yang dalam suara rintihnya
berkata “ aku mau keluar sekarang, sekarang aja, itu sudah merah”, sambil
menarik infusnya. Aku jelas merasa menjadi orang yang paling marah dan nggak
bisa ikhlas, adikku cuma satu, dan masih banyak request Angga yang kemarin masih kelewat.
Setelah kami berada di
poin berserah diri. Angga dapet ruang dan bisa ditangani secara seharusnya.
Sayangnya, waktu sampe di ruang itu, Mama dan Papa masih dipusingkan dengan
urusan administrasi. Sumpah pak, buk,
kami akan mengurusnya secara baik-baik nanti, tapi tolong obatin adik saya dulu
L. Aku cuma bisa ngomel “percuma dokter segini
banyak tapi nggak ada yang nolongin adek, admin itu bisa diurus nanti, tapi
anak ini enggak”, tiba-tiba Angga yang udah dalam kondisi drop banget minta
bangun, “pa bangun, mbak salim mbak, salim, peluk”. Tepat di posisi itu aku
bener-bener nggak bisa ngomong apa-apa, cuma bisa nangis. “kamu mau kemana?
Hati-hati ya dek”. Angga juga salim ke Papa. Salim adalah kebiasaan yang selalu
dilakuin setiap salah satu dari kami mau pergi. Beberapa waktu kemudian, Angga
bisa ditangani, meskipun Angga berubah jadi orang yang tiba-tiba kuat banget buat
narik-narik infus dan teriak-teriak. Minta makanan/minuman manis, minta aku
buat ngusir orang yang sebenernya aku nggak bisa liat orang itu, sampe akhirnya
setelah aku dan papa balik dari urusan admin dan kami semua berkumpul, Angga
semakin drop, beberapa kali detak jantungnya ilang dan harus dipompa. Sampai
ketiga kalinya dengan hitungan tiga kali tiga puluhan, dan hasilnya tetap detak
jantungnya ilang, Papa, Mama dan aku cuma bisa nangis. Kehilangan? Pasti. Kami
langsung tlp beberapa orang terdekat dan semuanya nggak nyangka karena kami
memang merahasiakan semuanya. Rabu sore semua orang terdekat berkumpul di
rumah, dan aku sangat berterima kasih sama semua yang sudah menyempatkan waktu,
tenaga, dan semua yang sudah diberikan, nggak nyangka melepas kepergian Angga
akan dihadiri dengan sebegitu banyaknya orang yang sampe beberapa hari
berikutnya pun masih terus datang. Oh iya, meskipun setelah pemakaman Angga
langitnya gerimis tipis-tipis, nggak bikin basah semua, tapi bikin sejuk.
Terima kasih yang tidak bubar waktu itu :’)
Mama dan Papa selalu
bilang “kita ini keluarga harus saling melindungi, segala masalah yang ada
harus dihadapin bersama ber4 ya”, dan rasanya kedepan kita nggak bisa melewati
ber4 dek. Sedikit kebanggan, kami semua bisa bersama-sama ada di detik
terakhirnya Angga, meskipun kadang juga masih miris belum bisa memenuhi request Angga buat makan ini-itu, buat
bikin video bareng dan ya, begitu lah. Nggak ada satu pun dari kita yang bisa
nebak kapan kita nggak ber4 lagi. Dan iyaaa, ucapan Angga soal banner itu nyata, Angga bener-bener
pergi dan diiringi banyakkk sekali orang yang turut merasa kehilangan, serta
permintaan salim di rumah sakit itu memang salim terakhir Angga untuk pergi
selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar