Menahan rasa ingin jumpa
Percayalah padaku aku pun rindu kamu, ku akan pulang
Melepas semua kerinduan, yang terpendam...
Percayalah padaku aku pun rindu kamu, ku akan pulang
Melepas semua kerinduan, yang terpendam...
![]() |
| Dewa 19 dalam video klip "Kangen". (https://www.youtube.com/watch?v=RYGgSRtYxd0) |
Mungkin hanya sebagian kecil
dari Anda yang berhasil untuk tidak membaca kalimat tersebut dengan nada yang berbeda dari lagu “Kangen milik Dewa 19”. Salah satu lagu ciptaan Ahmad Dhani
yang sampai saat ini masih sering diputar dimana saja. Beberapa waktu terakhir,
nama Ahmad Dhani banyak diliput media. Bukan karena karya berupa lagu-lagunya,
tapi karena keputusannya untuk terjun ke dunia politik maupun persoalan
kehidupan pribadinya. Padahal jujur, saya termasuk orang yang rindu dengan
karya-karya Ahmad Dhani, salah satu sosok besar dalam band Dewa 19 (Dewa), pun
sepertinya Anda juga demikian.
Setelah memutuskan untuk bubar, Dhani pernah menyatakan bahwa "Dewa adalah band nostalgia", dan saya merasa Dhani (dan karya-karyanya) berhasil untuk hal itu. Nostalgia, kenangan manis yang tidak bisa dilupakan. Tepat untuk lagu-lagu Dewa 19 yang rasanya akan sangat sulit untuk dilupakan. Contohnya saja lagu "Kangen", yang ternyata sudah lahir jauh lebih dulu sebelum saya ada, yakni di tahun 1992. Sudah 26 tahun, dan saya (serta kawan seusia saya) familiar dengan liriknya. Rasanya lagu ini pun sudah menjadi lagu lintas generasi, yang bisa dinyanyikan ayah, ibu dan anaknya secara bersama. Belum lagi fakta bahwa jumlah cover lagu tersebut juga masih terus bertambah, dan saya yakin para peng-cover ini pun usianya tidak lebih dari usia lagu ini. Oh ya, tidak bisa dipungkiri juga kalau ternyata lagu ini juga sering menjadi lagu wajib bagi Anda ketika asyik ber-karaoke, bukan?
Kalau saya bilang, lagu-lagu Dewa 19 memang lagu yang tidak lekang oleh waktu. Sampai saat ini pun lagu-lagunya masih menjadi pilihan utama saya. Kalau lah saya rindu, lagu "Kangen" pasti tidak pernah absen, pun ketika saya patah hati, lagu "Pupus" atau "Risalah Hati" masih menjadi pilihan. Belum lagi sejumlah lagu lain, misalnya Separuh Nafas, Selimut Hati, Roman Picisan, dll. Mungkinkah Anda juga begitu?
Kembali pada persoalan cover lagu, cukup banyak cover lagu yang berhasil membawakan lagu-lagu Dewa 19 dengan baik, tapi menurut pendapat pribadi saya ada 'sesuatu' dalam lagu tersebut yang belum bisa melekat pada penyanyi lain dan memang versi asli tetap menjadi juara. Semacam ada greget yang memang cuma ada pada mereka yang tergabung dalam Dewa 19.
Kekaguman saya tidak berhenti disitu. Kita sama-sama tau, nyawa sebuah band hampir selalu terletak pada vokalis. Suara seperti apa yg kita dengar, disitulah kita dengan mudah mengenali "oh ini band A..." Tidak banyak band yang masih bisa survive dalam menghadapi pergantian vokalis, tapi Dewa19 berhasil. Saya masih belum benar-benar yakin nyawa band ini ada pada siapa, karena toh Ari Lasso dan Once Mekel sama-sama berhasil menghidupkan Dewa 19, dengan sama baiknya meskipun warna suaranya (menurut saya) cukup berbeda. Karakter suara Ari Lasso melekat cukup kuat pada lagu “Kangen”, sama halnya dengan karakter suara Once Mekel yang tidak bisa dilepaskan dari lagu “Risalah Hati”, keduanya sama-sama juara.
Akhir kata, dari semua yang saya sampaikan, apakah Anda juga sependapat dengan saya? kalau tidak sependapat juga tidak masalah, toh Dewa 19 tetap menjadi juara.... paling tidak di hati saya. Ehehehe.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar